PTT (Pegawai Tidak Tetap) -part 1-

Tunggu dulu, apa itu PTT? Hehehe pasti ga semua tau apa itu PTT. Bukan, bukan Push To Talk hehehe.. PTT itu adalah Pegawai Tidak Tetap.

Jadi begini, semua dokter / dokter gigi yang baru lulus itu biasanya pergi tugas ke daerah terpencil atau sangat terpencil di pelosok Indonesia. Dulu, PTT ini adalah hal wajib dilakukan oleh para dokter / dokter gigi agar bisa diberikan Surat Izin Praktek (SIP). Juga wajib dilakukan sebelum apply PNS atau mau sekolah lagi, atau ingin melamar menjadi dokter / dokter gigi di suatu instansi atau rumah sakit.

Sekarang?
Sekarang sudah lebih dimudahkan. PTT sudah bukan menjadi hal wajib bagi para dokter / dokter gigi baru lulus. Mereka sudah bisa buka praktek dengan syarat harus lulus tes kompetensi kedokteran / kedokteran gigi yang disahkan oleh Kolegium Kedokteran / Kedokteran Gigi Indonesia. Dan setelah lulus tes itu, sertifikat kelulusan tes tersebut merupakan salah satu syarat untuk mengurus Surat Tanda Registrasi Dokter / Dokter Gigi yang disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. Setelah mempunyai Surat Tanda Registrasi (STR) Dokter / Dokter Gigi, maka tiap dokter / dokter gigi sudah bisa mengurus Surat Izin Praktek (SIP) di bawah rekomendasi IDI atau PDGI setempat.
PTT tetap menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menabung untuk membangun tempat praktek, atau bagi mereka yang ingin melanjutkan sekolah, maupun bagi mereka yang ingin menjadi PNS.

Oke oke, jadi kenapa saya ngalor ngidul tentang PTT ini? :D :D

image 207.jpgNah, sekarang, status saya ini sedang PTT hehehe. Baru saja diterima untuk periode September 2008 ini, selama 12 bulan alias 1 tahun.
Di mana? Di Propinsi Kepulauan Riau, Kabupaten Bintan.
*gubrak* jauh amat.. pyuh pyuh, don’t ask me.. *mata berputar-putar jika memikirkan*

Maka awal bulan September kemarin, berangkatlah saya dari Makassar menuju kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Dengan menggunakan Lion Air, transit di Jakarta, lalu sambung lagi dengan menggunakan Sriwijaya Air dengan rute Jakarta – Tanjung Pinang. Selama perjalanan saya sukses harus membayar sejumlah rupiah sebab bagasi yang saya bawa lebih dari yang diperbolehkan oleh dua maskapai penerbangan tersebut. Huah.. Namanya juga pindahan untuk jangka waktu 1 tahun. Syukur-syukur saya nggak bawa seluruh kamar saya hehehe :D

Tiba di Tanjung Pinang, saya dijemput oleh junior saya di FKG yang kebetulan tinggal di sana bersama suaminya (yang kebetulan senior saya di FKG). Namanya Mitha dan Kak Syawal. Turun dari pesawat, saya dikagetkan oleh keduanya yang ternyata telah menunggu di bawah pesawat. Kak Syawal ini ternyata Kepala Kesehatan AURI, hahahaha.. Nggak heran dia punya permit untuk menjemput sampai di bawah pesawat gitu :D Duh saya serasa tamu dari manaaaa gitu yang langsung dijemput di bawah pesawat. Untungnya nggak ada karpet merah hihihihi..

image 208.jpgSetelah dari airport, saya kemudian diantarkan ke hotel Bintan Harmoni, tempat saya tinggal sementara. Tarifnya lumayan murah, Rp 110.000,- dengan fasilitas kamar pake AC, tempat tidur king size (tapi bukan spring bed hehehe), ada TV, shower dengan pilihan air panas kalau mau mandi, dan kamarnya cukup luas. Cuma gak termasuk makan pagi.
Setelah naruh barang di hotel, saya kemudian diajak makan di Rumah Makan Sei Enam Seafood Pantai Teluk Keriting, di dekat pantai Sri Bintan. Di sana saya mencoba makanan khas dari Bintan, yaitu Gonggong.
Hah? Apa itu??
gonggongGonggong, sekilas saya mendengarnya kemudian menyangka bahwa ini makanan ada hubungannya dengan daging anjing *huek*, tapi ternyata sama sekali tidak ada hubungannya dengan anjing. Entah kenapa dikatakan “gonggong”, makanan ini ternyata adalah siput laut yang punya rumah kayak keong itu. Disajikan dengan saus yang lumayan enak.
Bentuknya? Jangan tanya. Awalnya saya merasa geli melihat hidangan siput laut tersebut. Untuk memakannya, diperlukan tusuk gigi untuk menarik kaki siput tersebut keluar dari cangkangnya. Cara menariknya pun harus melingkar mengikuti rumah cangkang si siput tersebut. Kalau ditarik horisontal begitu saja, isinya akan putus dan kita terpaksa harus korek-korek lagi.
Waktu saya mencoba untuk mengeluarkan isi si siput itu, pertamanya masih agak geli untuk memasukkannya ke dalam mulut. Tapi rasa ingin tahu akan rasa Gonggong ini lebih tinggi. Maka jadilah saya melahap Gonggong yang pertama.
Rasanya? Kayak makan tude hahaha.. Dan saya taruh saus banyak-banyak jadi tampang sebelum masuk mulut, Gonggong tersebut tidak terlihat menggelikan :D

Pulang dari makan malam itu, saya dibawa berkeliling kota Tanjung Pinang, yang ternyata tidak terlalu besar. Jalanan yang berbukit-bukit mengingatkan saya pada kota Pare-pare di Sulawesi Selatan. Jalanan ada yang naik dan ada yang turun. Untuk mengelilingi kota tersebut hanya butuh waktu 30 menit. Kota Tanjung Pinang nggak punya mal, jadi jangan berharap untuk mencari Starbuck ataupun sekedar ingin mencicipi pizza keluaran Pizza Hut terbaru. Bioskop 21 pun gak ada. Kata Mitha, mereka harus nyeberang ke Batam untuk merasakan empuknya kursi bioskop. Dan fastfood terkenal, satu-satunya yang ada ialah Kentucky Fried Chicken (KFC). Tempatnya pun secuil, dan merupakan gedung tersendiri.
Satu lagi, tiap hari pasti ada pemadaman bergilir selama 6 jam dengan jadwal pemadaman yang tidak diketahui bersama :D :D

Jadi?
Yah begitulah.. Saat ini saya sedang morat-marit berusaha untuk bisa posting. Dengan berbekal koneksi seadanya, saya memaksakan untuk bisa posting blog ini ehehe.
Besok saya akan posting lanjutannya yah! :D

Related posts :

35 thoughts on “PTT (Pegawai Tidak Tetap) -part 1-”

  1. selamat datang di dunia pns deh ra! cuman jangan sampai nantinya jika iseng ikut pemilihan putri indonesia 2009, akan muncul seorang juara putri persahabatan dan lingkungan hidup berprofesi dokter gigi dengan membawa nama propinsi riau, bukan sulsel lagi hehe

  2. selamat ya ra, bintan ma enak katanya terpencil tapi dekat singapore bahkan ada akses langsung dr sing, ada tempat wisata khusus orang sing…sukses2…

  3. Wah, telat baca!

    Tanjung Pinang bukannya terkenal sama makanannya yang enak-enak? Minimal, almarhumah omaku pernah cerita.

    Oh iya, masih untung ada KFC, di sini kagak ada, hiehehe. Tapi kalau pas lagi masak ayam terus dapat pemadaman, jadi gimana, ya…?

    Ayo, lanjut!

Leave a Reply