7 Tips Aman Beli Tiket Online

Menjelang liburan, jangan lupa periksa harga dan jadwal tiket kereta. Nah, Anda mungkin sudah mulai berburu tiket dari sekarang. Hal ini pun membuat Anda mulai hunting sana sini tanpa memperhatikan keamanan lagi dalam pembelian tiket online.

Pagi hari di Stasiun Gambir, Jakarta.

Biasanya, peretas situs akan sangat senang dengan musim liburan. Kenapa? Karena tingginya traffic berbelanja atau membeli tiket online akan memudahkan mereka dalam menjebol banyak rekening dan juga kartu kredit.

Daripada liburan batal karena kena tipu atau di-hack, lebih baik ikuti tips-tips berikut ini ya~
Continue reading “7 Tips Aman Beli Tiket Online”

Ingin Berlibur? Coba Naik Krakatau Express

Krakatau Express merupakan kereta api dengan jalur perjalanan cukup panjang. Untuk perjalanan ke Kediri-Merak membutuhkan jarak tempuh hingga 19 jam. Meskipun perjalanannya lama, dijamin tidak akan membosankan selama perjalanan. Karena kamu bisa menikmati pemandangan berbeda di setiap jalur. Apalagi pemandangan Purwokerto di sekitar Stasiun Gombong, sungguh luar biasa. Jika ingin ke Sumatera cukup dengan kapal feri menyeberangnya, bila sudah tiba di Stasiun Merak.

Dulu KA ini memang memiliki rute perjalanan yang sedikit antara Merak, Cirebon, Madiun, Kediri dan Blitar atau sebaliknya. Saat ini Krakatau Express rutenya sudah luas dan termasuk rute kereta api terpanjang dengan berbagai pilihan sesuai kebutuhan kamu. Jika kamu ingin berlibur, dengan mencoba naik Krakatau Express dengan berbagai fasilitas yang lengkap.

Continue reading “Ingin Berlibur? Coba Naik Krakatau Express”

Mau Ke Candi Prambanan? Ini Tips Lengkapnya!

Ada yang sudah pernah ke Candi Prambanan? Saya sudah, tapi kira-kira tahun 2010 setelah pulang dari acara blogger di Solo. Waktu itu rencana balik ke Jakarta melalui jalur selatan, trus menyempatkan diri mamapir ke Candi Prambanan. Ini juga sebenarnya karena belum pernah ke sana sebelumnya :D jadi lah saya, Nawir, Nhie, dan Nuri mampir.

Saya, Nawir, dan Nhie di Candi Prambanan. Foto oleh @nurikidy.
Candi Prambanan. Foto oleh @nurikidy.

Luas wilayah Candi Prambanan adalah sekitar 39,8 ha. Luas banget -_-” butuh persiapan maksimal untuk mengunjungi setiap sisinya, tentunya selain tenaga dan perut yang kenyang ya hehe. Iya, persiapan maksimal supaya tidak melewatkan hal-hal menarik selama mengunjungi Candi Prambanan, seperti yang tersaji pada informasi traveloka aktivitas dan rekreasi. Tapi tak jarang juga, pengunjung yang datang harus kebingungan terlebih dahulu mau melakukan apa, di bangunan yang luasnya puluhan hektar tersebut. Untuk menghindari hal tersebut, coba cek-cek informasi dan tips perjalanannya di bawah ini.

Continue reading “Mau Ke Candi Prambanan? Ini Tips Lengkapnya!”

Weekly Photo Challenge : My Neighborhood

It’s a phoneography challenge from The Daily Post!

Every week Daily Post giving us photo challenge that we can post any kind of photos or pictures depends on the theme of the week. Since this week, Daily Post start to give challenge on phoneography. Phoneography means took a photo with your phone ^_^

Here’s the challenge :

To kick this off, grab your phone and head out the door. That’s right — get on your feet and go outside to explore — and document — where you live. I want to see your neighborhood: The path you take for your daily morning run. Your local coffee shop or dive bar. The nearby alley of street and community art. A shot of the intersection that perfectly captures the bustle of your own corner of town.

So?

Welcome to my neighborhood. I didn’t live in a town that full of green green grass of home. I live in a very busy city : Jakarta – Indonesia.
I also didn’t live in a house that surrounded by green park. I live in a simple apartment in the middle of the busy city.

What I like is… the morning scene from my 10th level window. Captured last year.

Sunrise from my window room
Sunrise from my window room, taken with Samsung Galaxy Note N7000.

Not every morning I found this scene, since I am not a morning person :D

#JavaRoadtrip : Long Journey to the East

Postingan ini merupakan sambungan dari postingan sebelumnya : #JavaRoadtrip : 24 Jam Pertama.

19 Agustus 2012
Setelah bermalam di SPBU 34.452.19 Lohbener – Indramayu, pagi-pagi kami disuguhkan dengan dua pemandangan. Pemandangan yang pertama : indahnya sinar matahari pagi yang bersinar dari ufuk timur pulau Jawa. Pemandangan kedua : ternyata SPBU tersebut sudah kosong, banyak yang udah pergi dan meninggalkan sampah yang cukup banyak di sekitar mobil :( …dan harusnya bangun jam 5 subuh, yang ada malah ketiduran, dan kebangun jam 6 pagi >.< Morning sunrise[/caption]

Sampah yang berserakan :(

Continue reading “#JavaRoadtrip : Long Journey to the East”

#JavaRoadtrip : 24 jam pertama

Jadi libur Lebaran kemarin, saya ngikut si dia ke kampung halamannya di Malang, Jawa Timur. Sejak jauh-jauh hari sudah merencanakan perjalanan ini, dari Jakarta ke Malang akan menggunakan si Rushty, yang artinya akan melakukan perjalanan darat dengan menggunakan mobil, serta nyetir sendiri.

Perjalanan darat Jakarta – Malang bukanlah hal pertama yang pernah kami lakukan. Tahun 2009 kemarin, adalah perjalanan pertama kami, di mana kedua orang yang berpergian ini dua-duanya pertama kali lintas Jawa dengan menggunakan mobil dan nyetir sendiri ^__^ modalnya hanya Google Map supaya gak nyasar hihi :D

Anyway, seperti yang sudah direncanakan, kami berangkat dari Jakarta pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 2012, tepat pukul 23.00 berangkat dari area Jakarta Selatan, lalu menggeber tol JORR – Cikunir. Perjalanan sampai Cikunir baik-baik saja. Yang kami sempat khawatirkan adalah mampet di Gerbang Tol Cikarang Utama, yang memang sering menjadi biang kemacetan di dalam jalur tol Jakarta – Cikampek. Namun ketika melewati GT Cikarang Utama, aman..!! Maka dengan hati riang kami melanjutkan perjalanan, diiringi oleh berbagai macam musik yang udah dikemas dalam playlist khusus untuk perjalanan ini.

All the way to Cikampek

Namun keriangan ini tidak berlangsung lama. Memasuki km 67, alur traffic pun mulai padat merayap. Tercatat pada jam di mobil yaitu sekitar 23.30 malam. Dan ini berlangsung terus hingga 4 jam kemudian baru bisa lolos dari gerbang tol Cikampek. Saat masih macet-macetan menuju gerbang tol Cikampek, beberapa kali kami kaget, sebab mobil-mobil di belakang mobil kami kok mendadak hilang, atau malah sepi sama sekali. Belakangan baru tahu bahwa mobil-mobil tersebut dialihkan ke tol Cipularang karena kemacetan sudah sangat panjang. Dan ternyata arah Cikampek udah ditutup beberapa jam setelah kami melewati area tersebut. Yang mau ke arah Cikampek dll diarahkan melalui tol Sadang atau Purwakarta, dan itu merupakan masalah kemacetan lainnya lagi :D

Menjelang gerbang tol Cikampek

Continue reading “#JavaRoadtrip : 24 jam pertama”

#7HariAvatarBajuAdat

Judul di atas merupakan hashtag twitter #7HariAvatarBajuAdat yang mulai merambah di timeline twitter, setidaknya 2 hari terakhir ini (terhitung dari tanggal 25 Januari 2012).

Awalnya karena saya mengganti avatar di twitter yang udah jadul dengan foto yang menggunakan baju adat asal daerah saya, Makassar. Foto tersebut dipotret oleh Armin Hari pada saat lagi foto bareng dadakan bareng teman-teman Angingmammiri yang lain :)

Foto bareng teman-teman Angingmammiri. Photo by Armin Hari

Di facebook sih saya sudah menggunakannya sebagai cover photo :D Alasannya sederhana. Saya berasal dari Makassar – Sulawesi Selatan, dan saya ingin baju adat ini diketahui oleh khalayak banyak, bahwa baju ini merupakan baju daerah dari sekian banyak baju daerah di tanah air tercinta Indonesia ini :)

Nah berhubung Blogger Nusantara 2012 nanti diadakan di Makassar, sesuai dengan pengumuman resmi hari Senin tanggal 23 Januari 2012 di acara syukuran kantor ID Blog Network, saya kemudian mengganti avatar akun twitter saya dengan pose yang memakai baju bodo (baju adat asal Bugis-Makassar), demi mempromosikan dan memperkenalkan Makassar ke teman-teman lainnya :)

Tanggal 25 Januari yang lalu, saya di-mention oleh @SupirPete2, bahwa dia ngajak teman2 lainnya untuk ganti avatar memakai baju adat Sulawesi Selatan selama 1 minggu, seperti avatar saya. Saya lalu menyambut ajakan tersebut, dengan membuat ajakan ini menjadi global, agar teman-teman dari daerah lain dapat turut berpartisipasi.

Samber-samberan dengan @SupirPete2

Saya mengusulkan untuk menggunakan hashtag #7HariAvatarBajuAdat, dan disambut baik oleh @SupirPete2 :) dan di balik hashtag ini, keinginan saya adalah.. ingin memperkenalkan bermacam-macam baju adat di seluruh nusantara melalui avatar twitter.

Proses mulainya #7hariAvatarBajuAdat

Gerakan ini murni dari saya dan @SupirPete2 secara personal, tanpa ada pengaruh dari brand tertentu, gerakan tertentu, atau sebuah modus. Gerakan spontan malahan :D Tau-tau udah jalan aja :P

Mulai dari 7 hari tanpa mengganti avatar dan bagaimana supaya gerakan ini tetap berjalan terus sebuah tantangan tersendiri bagi saya dan @SupirPete2. :) 7 hari dihitung sejak tanggal 25 Januari 2012 kemarin :)

Dan bola salju pun bergulir :) dan jujur sesuatu yang saya tidak sangka, ternyata teman-teman di timeline saya satu-satu mulai menyambut gerakan ini, dan di hari pertama itu, ketika malam makin larut, makin kencang juga samber-samberan #7HariAvatarBajuAdat.

Saya yakin, sebagian besar dari kita semua, mungkin sudah lupa bagaimana baju adat dari suku yang berbeda di Indonesia ini. Yang teringat biasanya adalah blangkon atau kebaya. Itu saja. Mengapa demikian? Sebab baju adat adalah baju yang tidak dipakai sehari-hari. Biasanya hanya muncul pada saat parade 17 Agustusan, dan saat nikahan :D

Terbukti, banyak yang akhirnya mengais-ngais foto-foto lama demi ikutan #7HariAvatarBajuAdat :D ada yang memakai saat dirinya masih kanak-kanak, ada yang memakai avatar saat masih kurus *lirik2 orang ini*, bahkan ada yang pakai foto anaknya hahaha *woi curang hahaha*

Hasilnya.. sampai hari ini, saya dapat menikmati avatar-avatar yang bernuansakan nusantara. Kenapa saya bilang nuansa nusantara, sebab dari baju adat Aceh, Minang, Kalimantan, Jawa, Madura, Bali, Sulawesi, Maluku, Papua, bahkan NTT pun, bertebaran di timeline :) *peluk-peluk semuanyah*

Masih ada 4 hari lagi menuju akhir #7HariAvatarBajuAdat. Sudahkah Anda berpartisipasi? ^__^

Access to Health Care, Do You Care?

The pressure on our sprawling healthcare system in the U.S. has never been greater. There’s an urgent need to expand testing and treatment for COVID-19 to all residents who need it, regardless of health insurance status. Massive federal cash influxes have sought to shore up hospitals sagging under the weight of the coronavirus burden and the related cessation of elective surgery and regular medical care.1?

Long before this crisis, the U.S. led other industrialized nations in high spending on healthcare and getting a low bang for the buck in terms of health outcomes and the percentage of the population served. Life expectancy in the U.S., for example, is 78.8 years, while it ranges from 80.7 to 83.9 in 10 other high-income countries, according to an influential study in the Journal of the American Medical Association (JAMA). And only 90% of the population in the U.S. has health insurance, compared to 99% to 100% of the population in the other industrialized countries examined.2?

KEY TAKEAWAYS
COVID-19 has increased pressure on our highly complex and expensive healthcare system, making it more urgent to lower costs.
One reason for high costs is administrative waste. Providers face a huge array of usage and billing requirements from multiple payers, which makes it necessary to hire costly administrative help for billing and reimbursements.
Americans pay almost four times as much for pharmaceutical drugs as citizens of other developed countries.
Hospitals, doctors, and nurses all charge more in the U.S. than in other countries, with hospital costs increasing much faster than professional salaries.
In other countries, prices for drugs and healthcare are at least partially controlled by the government. In the U.S. prices depend on market forces.
Costly Healthcare Hurts Everyone
The high cost of healthcare affects everyone, sick or well. It has depressed individual spending power for the past few decades. Salaries for American workers have risen, but net pay has stayed the same because of increasing charges for health insurance.3? Today, tightening up on overspending is urgent to help stretch medical and hospital resources to control COVID-19.

Here are six underlying reasons for the high cost of healthcare in the U.S.

1. Multiple Systems Create Waste
“Administrative” costs are frequently cited as a cause for excess medical spending. The U.S. spends about 8% of its healthcare dollar on administrative costs, compared to 1% to 3% in the 10 other countries the JAMA study looked at.

The U.S. healthcare system is extremely complex, with separate rules, funding, enrollment dates, and out-of-pocket costs for employer-based insurance, private insurance from healthcare.gov, Medicaid, and Medicare, in all its many pieces. In each of these sectors consumers must choose among several tiers of coverage, high deductible plans, managed care plans (HMOs and PPOs) and fee-for-service systems. These plans may or may not include pharmaceutical drug insurance which has its own tiers of coverage, deductibles, and copays or coinsurance.

For providers, this means dealing with myriad regulations about usage, coding, and billing. And, in fact, these activities make up the largest share of administrative costs.4?

2. Drug Costs Are Rising
On average, Americans shell out almost four times as much for pharmaceutical drugs as citizens of other industrialized countries pay. High drug prices are the single biggest area of overspending in the U.S. compared to Europe, where drug prices are government regulated, often based on the clinical benefit of the medication. Take a look at these sonus complete reviews for cheaper real medicines to treat hearing conditions.

With little regulation of drug prices, the U.S. spends an average of $1,443 per person, compared to $749, on average, spent by the other prosperous countries studied. In the U.S. private insurers can negotiate drug prices with manufacturers, often through the services of pharmacy benefit managers. However, Medicare, which pays for a hefty percentage of the national drug costs, is not permitted to negotiate prices with manufacturers.

3. Doctors (and Nurses) Are Paid More
The average U.S. family doctor earns $218,173 a year, and specialists make $316,000—way above the the average in other industrialized countries. American nurses make considerably more than elsewhere, too. The average salary for a U.S. nurse is about $74,250, compared to $58,041 in Switzerland and $60,253 in the Netherlands.6? 7?

U.S. managed care plans (HMOs and PPOs) may succeed in lowering healthcare costs by requiring prior authorization for seeing a high-priced specialist. Use of a nurse practitioner instead of a family doctor can also save money.

Sunset in Jakarta

Biasanya foto sunset itu dilengkapi dengan nuansa alam, misalnya pantai, rerumputan, alang-alang, dll dsb. Tetapi di kota Jakarta yang tanahnya hampir tidak terlihat lagi, sejauh mata memandang hanya gedung-gedung pencakar langit yang terlihat.

Di suatu sore yang melelahkan, setelah mengikuti sebuah kursus fotografi di salah satu gedung di Jakarta, tampak suasana sunset yang indah. Saya segera mengambil kamera jadul, si Nikon D40 saya, dan mengabadikan sunset dengan nuansa gedung-gedung tinggi ini.

Dan ini lah hasilnya:

sunset in jakarta

sunset in jakarta

sunset in jakarta

sunset in jakarta

sunset in jakarta

sunset in jakarta

SOLO: Sharing Online Lan Offline (Day 1)

SOLO, Sharing Online Lan OfflineWeekend kemarin saya menyempatkan diri ke Solo. Kalau di TripIt, Solo dinamakan sebagai Surakarta. Ya, kota yang dikenal luas dengan nama Solo ini, sebenarnya nama aslinya adalah kota Surakarta. Di Indonesia, Surakarta merupakan kota peringkat kesepuluh terbesar (setelah Yogyakarta). Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo.

Lalu ngapain saya ke Solo? Jadi begini, tanggal 5-6 Juni 2010 kemarin, komunitas blogger Bengawan Solo mengadakan acara yang bertajuk SOLO: Sharing Online Lan Offline. Acara ini merupakan ajang pertemuan blogger dan pengguna aktif teknologi informatika dengan masyarakat luas yang membutuhkan teknologi serupa untuk meningkatkan kualitas hidup bersama. Banyak kelompok perajin dan masyarakat yang sejatinya bisa lebih cepat mengembangkan diri, usaha dan komunitasnya dengan menggunakan internet, namun masih terkendala banyak sebab. Melalui diskusi-diskusi di forum Sharing Online Lan Offline inilah, banyak pihak diharapkan bisa saling menginspirasi.

Saya tiba di Solo jam 3 subuh, hari Sabtu, tanggal 5 Juni 2010. Di subuh itu, kota Solo masih sepi. Kendaraan yang saya tumpangi membelah jalan Slamet Riyadi, mencari Graha Solo Raya yang akan menjadi tempat dilaksanakannya acara SOLO: Sharing Online Lan Offline ini. Setelah menandai letak Graha Solo Raya, saya dan rombongan pun mencari tempat untuk sekedar meletakkan kepala dan tubuh yang telah duduk di atas kendaraan selama 12 jam lamanya ini.

Continue reading “SOLO: Sharing Online Lan Offline (Day 1)”