New Year of Grieving

Dari stasiun televisi, gw pertama tau bahwa terjadi gempa besar diikuti gelombang tsunami dashyat di Nanggroe Aceh Darussalam. Siaran itu terus menerus menyadarkan, peristiwa di hari Minggu pagi itu adalah bencana besar dalam ukuran dunia.
Ketika gw tulis ini, kita sadar, drama kemanusiaan itu begitu besar sehingga cuma bisa dibandingkan dengan bencana akibat meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883. Gelombang tsunami akibat letusan Krakatau menyapu desa-desa pesisir Jawa dan Sumatera, menewaskan lebih dari 30.000 penduduk.
Berita mengenai tsunami sepantasnya menjadi berita besar secara global. Semua ikut berduka melihat banyaknya korban dalam bencana alam mahadashyat ini, tragedi kemanusiaan itu menjadi sumber kepedihan dan menjadi bahan pembicaraan luas di seantero dunia.
Tidak terlalu banyak negara di dunia meninggalkan tahun 2004 dengan keceriaan besar. Bahkan Indonesia dan sejumlah negara Asia sedang dirundung duka dan derita akibat guncangan gempa dan terjangan tsunami.
Ekspresi keprihatinan dan duka hampir datang hamnpir dari seluruh penjuru dunia. Solidaritas kemanusiaan pada tingkat global tampak mencolok seperti terlihat pada bantuan dan pengiriman tim penyelamatan.
Melalui gempa dan tsunami, alam telah melepaskan kekuatannya yang luar biasa. Hanya dalam sekejap puluhan ribu orang tewas. Manusia benar-benar tidak berdaya menghadapinya.

In this new year… should not for party.
In this new year… it is time for contemplating and grieving..
Let’s pray for the better condition of Indonesia.

Related posts :

Leave a Reply