Bekerja Kembali di Masa Pandemi Covid-19

Setelah postingan terakhir soal di rumah saja, kira-kira 2 minggu setelah itu saya akhirnya masuk kembali bekerja dengan protokol-protokol kesehatan yang sudah diracik oleh PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia). Apa saja sih?

Dari sisi dokter dan perawatnya, semua sudah pasti menggunakan APD level 3 (double gloves, double masker, hazmat, boot cover, face shield atau goggles) yang rasanya luar biasa, deh. Hihihi. Serasa mau terbang naik space shuttle, nih.

Praktek dokter gigi semasa pandemi Covid-19.

Dan dari sisi pasien, wajib menggunakan hand sanitizer pada saat datang, diinstruksikan untuk menggunakan masker selama di klinik, kecuali pada saat perawatan (ya iya lah!), dicek suhu tubuhnya, di-screening terlebih dahulu. Kemudian ketika sudah masuk ke ruang perawatan, pasien akan diminta untuk berkumur dengan obat kumur antiseptik yang disediakan, selama 1 menit. Setelah perawatan selesai, pasien wajib mengenakan masker kembali.

Sterilisasi ruangan dengan menggunakan sinar UV-C.

Lalu dari klinik pun sudah pasti protokol sterlisasinya berstandar ganda. Maksudnya, selama ini kan pasti alat-alat akan disterilkan. Nah, selama pandemi ini, alat-alat dan ruangan disterilkan berkali-kali. Jadi alat yang dipakai, semuanya direndam di sabun khusus dalam waktu tertentu, kemudian dipacking dan disterilkan kembali di autoclave. Begitu juga dengan ruang perawatan, setelah mengganti dan mensterilkan ruangan dengan cairan khusus, ruangan perawatan juga disterilkan dengan menggunakan sinar UV-C.

Ribet kan? Hahaha oleh karena itu, pada masa pandemi, klinik juga hanya menerima maksimal 3 jam appointment dan hanya boleh ada 2 pasien yang dijadwalkan bersamaan (menggunakan 2 ruangan perawatan). Kalau biasanya dalam sehari bisa 5-6 pasien, ini paling banyak paling 3 atau 4 saja dalam sehari.

Dengan bekerja setiap hari dan bertemu pasien, saya tentu saja harus membekali diri untuk mencegah ikut terpapar bila ada pasien yang pernah terpapar Covid-19 atau pasien yang tanpa gejala apapun. Risiko kerja di bidang kesehatan memang seperti itu, jadi ya.. take it or leave it. Kalau mau dijalani, berarti harus mau melakukan hal-hal ekstra juga demi kesehatan diri sendiri.

Selain mengkonsumsi vitamin setiap hari dan berusaha tidak stres untuk menaikkan imunitas tubuh, saya juga melakukan pemeriksaan Covid-19 secara mandiri. Ini saya lakukan murni untuk diri sendiri dan pasien-pasien saya juga, bukan karena mau terbang ke mana gitu jadi harus ikut periksa-periksa.

Pemeriksaan seperti apa yang saya pilih? Pilihan saya jatuh pada langsung melakukan pemeriksaan swab pada nasofaring (hidung) dan orofaring (mulut).

Kenapa nggak tes rapid dulu? Karena menurut saya, tes rapid itu hanya buang-buang waktu. Bukan karena tidak akurat, tapi tes rapid itu sebenarnya untuk mengetahui apakah di tubuh kita ada antibodi terhadap virus SARS-CoV-2. Hasilnya pun bukan untuk mengetahui apakah kita positif atau negatif, tapi hanya mendeteksi apakah reaktif atau non-reaktif.

Intinya, pemeriksaan swab itu bisa langsung mendeteksi apakah negatif atau positif Covid-19, oleh karena itu saya memilih untuk langsung swab saja.

Melakukan pemeriksaan swab ini juga tidak mudah, selain biaya lumayan mahal, pengambilan sampelnya juga tidak enak haha. Jika bisa memilih, mendingan ambil darah deh daripada harus swab. Tapi apa boleh buat, tidak ada pilihan lain, kan?

Syukurnya untuk booking appointment pemeriksaan swab ini tidak sesulit yang dibayangkan. Saya bisa memilih untuk pemeriksaan drive thru (pemeriksaan dilakukan di mobil saja) kalau gak mau repot-repot atau parno masuk ke rumah sakit. Tinggal buka aplikasi Halodoc, cari PCR Swab Test Jakarta, lalu keluar deh daftar rumah sakit atau laboratorium yang menyediakan fasilitas pemeriksaan swab ini.

Rasanya? Jangan ditanya, tentu saja sangat aduhai hahaha. Yang pertama dilakukan pengambilan sampel di mulut dulu, tepatnya di persimpangan mulut dan tenggorokan alias orofaring. Lalu dilanjutkan dengan pengambilan sampel pada hidung (nasofaring), lubang kiri dan kanan. Nah yang gak enak itu pada saat pengambilan sampel nasofaring ini. Rasanya kayak terharu hahaha, kayak kalau lagi berenang trus kemasukan air dan kehirup. Ya gitu deh.

Pengambilan sampel swab orofaring.
Pengambilan sampel swab nasofaring.

Eunice juga ikutan di-swab biar aman :D

Hasilnya? Diambil 3 hari kemudian, dikirim melalui email. Bila butuh print-printannya, bisa request khusus dan diambil melalui drive thru lagi. No hassle!

Hasil pemeriksaan swab

Ya udah gitu saja, tetap semangat dan tetap sehat-sehat selalu ya, teman-teman. Jangan lupa jaga jarak dan pakai masker kalau keluar rumah, jangan keluar rumah kalau gak penting-penting amat. Statistik Covid-19 di Indonesia sudah makin naik angkanya, semoga semua cepat selesai dan kembali normal, dan bisa kopdar-kopdar lagi :D

40 Hari #dirumahaja

Hari ini tanggal 1 Mei 2020, tepat hari ke-40 saya berada #dirumahaja. Dimulai sejak tanggal 23 Maret 2020, klinik tempat saya bekerja mengumumkan untuk tutup sementara karena pandemi Covid-19 yang sedang melanda di dunia, dan sudah sangat happening masuk ke Indonesia. Tutup sementara ini dalam rangka sambil mempersiapkan kelengkapan Alat Pelindung Diri (APD) dan protokol sterilisasi yang sesuai dengan edaran protap PDGI dan Kemenkes RI.

Dan sebagai informasi tambahan, seperti kita ketahui semua, pandemi Covid-19 ini disebabkan oleh virus corona yang menyerang saluran pernapasan atas. Secara singkat, terserang ciri-ciri virus corona menyebabkan gejala antara lain adalah: batuk kering, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan bila sudah parah dapat menyebabkan demam, sesak napas, nyeri dada, batuk dengan lendir.

Sebagai seorang dokter gigi, pekerjaan ini merupakan salah satu pekerjaan yang rentan dengan penularan Covid-19. Mengapa? Karena pekerjaan dokter gigi adalah pekerjaan yang berhubungan langsung dengan rongga mulut manusia, yang merupakan salah satu sumber penularan Covid-19. Yang paling mengerikan adalah, kita tidak tahu siapa yang berpotensi menularkan, apakah dari pasien, atau sesama perawat, atau sesama dokter, dan lain sebagainya. Jadi yang bisa kami lakukan adalah tetap berhati-hati dalam semua tindakan, termasuk meningkatkan level kebersihan dan kesterilan lingkungan klinik serta penggunaan APD untuk tenaga medis yang bekerja di klinik (dokter gigi dan perawatnya). Untuk lebih detailnya tentang dokter gigi dan Covid-19 nanti saya akan tulis di postingan terpisah yaa~ :)

Praktek normal sebelum pandemi Covid-29

Continue reading “40 Hari #dirumahaja”

Internet of Things

Internet of Things (IOT) adalah jaringan objek fisik atau “hal-hal” tertanam dengan elektronik, perangkat lunak, sensor dan konektivitas untuk memungkinkannya untuk mencapai nilai yang lebih besar dan layanan dengan bertukar data dengan produsen, operator dan / atau perangkat lain yang terhubung. Setiap hal yang unik diidentifikasi melalui sistem komputasi tertanam tetapi mampu beroperasi dalam infrastruktur internet yang ada.

Continue reading “Internet of Things”

#7HariAvatarBajuAdat

Judul di atas merupakan hashtag twitter #7HariAvatarBajuAdat yang mulai merambah di timeline twitter, setidaknya 2 hari terakhir ini (terhitung dari tanggal 25 Januari 2012).

Awalnya karena saya mengganti avatar di twitter yang udah jadul dengan foto yang menggunakan baju adat asal daerah saya, Makassar. Foto tersebut dipotret oleh Armin Hari pada saat lagi foto bareng dadakan bareng teman-teman Angingmammiri yang lain :)

Foto bareng teman-teman Angingmammiri. Photo by Armin Hari

Di facebook sih saya sudah menggunakannya sebagai cover photo :D Alasannya sederhana. Saya berasal dari Makassar – Sulawesi Selatan, dan saya ingin baju adat ini diketahui oleh khalayak banyak, bahwa baju ini merupakan baju daerah dari sekian banyak baju daerah di tanah air tercinta Indonesia ini :)

Nah berhubung Blogger Nusantara 2012 nanti diadakan di Makassar, sesuai dengan pengumuman resmi hari Senin tanggal 23 Januari 2012 di acara syukuran kantor ID Blog Network, saya kemudian mengganti avatar akun twitter saya dengan pose yang memakai baju bodo (baju adat asal Bugis-Makassar), demi mempromosikan dan memperkenalkan Makassar ke teman-teman lainnya :)

Tanggal 25 Januari yang lalu, saya di-mention oleh @SupirPete2, bahwa dia ngajak teman2 lainnya untuk ganti avatar memakai baju adat Sulawesi Selatan selama 1 minggu, seperti avatar saya. Saya lalu menyambut ajakan tersebut, dengan membuat ajakan ini menjadi global, agar teman-teman dari daerah lain dapat turut berpartisipasi.

Samber-samberan dengan @SupirPete2

Saya mengusulkan untuk menggunakan hashtag #7HariAvatarBajuAdat, dan disambut baik oleh @SupirPete2 :) dan di balik hashtag ini, keinginan saya adalah.. ingin memperkenalkan bermacam-macam baju adat di seluruh nusantara melalui avatar twitter.

Proses mulainya #7hariAvatarBajuAdat

Gerakan ini murni dari saya dan @SupirPete2 secara personal, tanpa ada pengaruh dari brand tertentu, gerakan tertentu, atau sebuah modus. Gerakan spontan malahan :D Tau-tau udah jalan aja :P

Mulai dari 7 hari tanpa mengganti avatar dan bagaimana supaya gerakan ini tetap berjalan terus sebuah tantangan tersendiri bagi saya dan @SupirPete2. :) 7 hari dihitung sejak tanggal 25 Januari 2012 kemarin :)

Dan bola salju pun bergulir :) dan jujur sesuatu yang saya tidak sangka, ternyata teman-teman di timeline saya satu-satu mulai menyambut gerakan ini, dan di hari pertama itu, ketika malam makin larut, makin kencang juga samber-samberan #7HariAvatarBajuAdat.

Saya yakin, sebagian besar dari kita semua, mungkin sudah lupa bagaimana baju adat dari suku yang berbeda di Indonesia ini. Yang teringat biasanya adalah blangkon atau kebaya. Itu saja. Mengapa demikian? Sebab baju adat adalah baju yang tidak dipakai sehari-hari. Biasanya hanya muncul pada saat parade 17 Agustusan, dan saat nikahan :D

Terbukti, banyak yang akhirnya mengais-ngais foto-foto lama demi ikutan #7HariAvatarBajuAdat :D ada yang memakai saat dirinya masih kanak-kanak, ada yang memakai avatar saat masih kurus *lirik2 orang ini*, bahkan ada yang pakai foto anaknya hahaha *woi curang hahaha*

Hasilnya.. sampai hari ini, saya dapat menikmati avatar-avatar yang bernuansakan nusantara. Kenapa saya bilang nuansa nusantara, sebab dari baju adat Aceh, Minang, Kalimantan, Jawa, Madura, Bali, Sulawesi, Maluku, Papua, bahkan NTT pun, bertebaran di timeline :) *peluk-peluk semuanyah*

Masih ada 4 hari lagi menuju akhir #7HariAvatarBajuAdat. Sudahkah Anda berpartisipasi? ^__^

Access to Health Care, Do You Care?

The pressure on our sprawling healthcare system in the U.S. has never been greater. There’s an urgent need to expand testing and treatment for COVID-19 to all residents who need it, regardless of health insurance status. Massive federal cash influxes have sought to shore up hospitals sagging under the weight of the coronavirus burden and the related cessation of elective surgery and regular medical care.1?

Long before this crisis, the U.S. led other industrialized nations in high spending on healthcare and getting a low bang for the buck in terms of health outcomes and the percentage of the population served. Life expectancy in the U.S., for example, is 78.8 years, while it ranges from 80.7 to 83.9 in 10 other high-income countries, according to an influential study in the Journal of the American Medical Association (JAMA). And only 90% of the population in the U.S. has health insurance, compared to 99% to 100% of the population in the other industrialized countries examined.2?

KEY TAKEAWAYS
COVID-19 has increased pressure on our highly complex and expensive healthcare system, making it more urgent to lower costs.
One reason for high costs is administrative waste. Providers face a huge array of usage and billing requirements from multiple payers, which makes it necessary to hire costly administrative help for billing and reimbursements.
Americans pay almost four times as much for pharmaceutical drugs as citizens of other developed countries.
Hospitals, doctors, and nurses all charge more in the U.S. than in other countries, with hospital costs increasing much faster than professional salaries.
In other countries, prices for drugs and healthcare are at least partially controlled by the government. In the U.S. prices depend on market forces.
Costly Healthcare Hurts Everyone
The high cost of healthcare affects everyone, sick or well. It has depressed individual spending power for the past few decades. Salaries for American workers have risen, but net pay has stayed the same because of increasing charges for health insurance.3? Today, tightening up on overspending is urgent to help stretch medical and hospital resources to control COVID-19.

Here are six underlying reasons for the high cost of healthcare in the U.S.

1. Multiple Systems Create Waste
“Administrative” costs are frequently cited as a cause for excess medical spending. The U.S. spends about 8% of its healthcare dollar on administrative costs, compared to 1% to 3% in the 10 other countries the JAMA study looked at.

The U.S. healthcare system is extremely complex, with separate rules, funding, enrollment dates, and out-of-pocket costs for employer-based insurance, private insurance from healthcare.gov, Medicaid, and Medicare, in all its many pieces. In each of these sectors consumers must choose among several tiers of coverage, high deductible plans, managed care plans (HMOs and PPOs) and fee-for-service systems. These plans may or may not include pharmaceutical drug insurance which has its own tiers of coverage, deductibles, and copays or coinsurance.

For providers, this means dealing with myriad regulations about usage, coding, and billing. And, in fact, these activities make up the largest share of administrative costs.4?

2. Drug Costs Are Rising
On average, Americans shell out almost four times as much for pharmaceutical drugs as citizens of other industrialized countries pay. High drug prices are the single biggest area of overspending in the U.S. compared to Europe, where drug prices are government regulated, often based on the clinical benefit of the medication. Take a look at these sonus complete reviews for cheaper real medicines to treat hearing conditions.

With little regulation of drug prices, the U.S. spends an average of $1,443 per person, compared to $749, on average, spent by the other prosperous countries studied. In the U.S. private insurers can negotiate drug prices with manufacturers, often through the services of pharmacy benefit managers. However, Medicare, which pays for a hefty percentage of the national drug costs, is not permitted to negotiate prices with manufacturers.

3. Doctors (and Nurses) Are Paid More
The average U.S. family doctor earns $218,173 a year, and specialists make $316,000—way above the the average in other industrialized countries. American nurses make considerably more than elsewhere, too. The average salary for a U.S. nurse is about $74,250, compared to $58,041 in Switzerland and $60,253 in the Netherlands.6? 7?

U.S. managed care plans (HMOs and PPOs) may succeed in lowering healthcare costs by requiring prior authorization for seeing a high-priced specialist. Use of a nurse practitioner instead of a family doctor can also save money.

Goodbye, Steve Jobs.

Steve Jobs meninggal. Tidak, ini bukan berita hoax. Dunia telah kehilangan seorang sosok yang mengagumkam. Seperti saya tulis di twitter saya tadi pagi, “It’s hard to find a genius like him in this world.“.

Steve Jobs meninggal akibat kanker pankreas yang telah dialaminya sejak tahun 2004. Ia telah menjalani transplantasi hati pada tahun 2009. Dan seakan mengetahui dirinya tidak lama lagi di dunia ini, pada bulan Agustus 2011 kemarin, Steve Jobs mundur dari CEO dan posisinya digantikan oleh Tim Cook, Chief Operating Officer (COO) Apple.

Saya punya satu macbook putih (he bought it in 2008, and I started to use it on 2009), dan sebuah iPod touch 4th gen (after upgrade it from 3rd gen a few months ago). Sampai sekarang saya masih terkagum-kagum dengan barang-barang berlogo apel digigit ini.

Goodbye, Steve Jobs. Rest in peace.

Gerhana Matahari

Hari ini, tanggal 15 Januari 2010, katanya ada Gerhana Matahari. Kalau ga salah, kejadiannya sebelum jam 4 sore tadi. Saya juga baru nyadar waktu dengar di radio, lagi ribut-ribut mengeluh karena ga bisa lihat gerhana. Alasannya? Cuaca agak mendung hehehe. Sebenarnya kemarin sih udah ngobrol-ngobrol sama salah satu staff di rumah sakit tentang gerhana matahari ini, trus kelupaan, sampai akhirnya dengar ribut-ribut di radio tadi :D
Continue reading “Gerhana Matahari”

Pesta Blogger 2009: Sebuah Catatan Telat :D

pb2009Postingan yang basi banget. Jelas itu. Tapi sudahlah, ketika diniatkan untuk ditulis, perlu ditulis.

Sesuai dengan usul Tuteh di di postingan sebelumnya, baiklah saya akan mulai posting dari Pesta Blogger 2009. ^_^v

Pesta Blogger. Dengan tahun ini, sudah 3 (tiga) kali saya mengikuti event nasional dunia perbloggeran ini. Yang pertama, tahun 2007, diadakan di Blitz Megaplex. Yang kedua, tahun 2008, diadakan di gedung-yang-saya-lupa-namanya, somewhere di jalan MH Thamrin – Jakarta. Yang ketiga, ya tahun ini, di gedung SMESCO, Pancoran (ya, lagi-lagi di Jakarta :D).

Dua pesta blogger yang telah saya ikuti, saya sama sekali tidak menulis di blog. Waktu pesta blogger yang pertama, soalnya setelah menghadiri PB 2007, saya dan teman-teman Angingmammiri langsung balik ke Makassar dan konsentrasi untuk persiapan ultah Angingmammiri yang pertama, pada tanggal 25 November.
Waktu pesta blogger yang kedua, mood itu keburu menurun drastis oleh beberapa hal, yang sebenarnya nggak penting banget deh hehehehe…
Maka untuk pesta blogger yang ketiga, nulis aahh hihihihi…

Saya datang telat di gedung SMESCO. Hampir jam 11 siang, padahal acara di jadwal *katanya* mulai jam 10. Ketika tiba, ternyata sudah ada diskusi komunitas (?) di atas panggung. Enggak ngerti juga kenapa menurut postingan di web Pesta Blogger, sesi di awal acara tersebut namanya “diskusi komunitas”. Yang bikin saya agak bingung dan gak ngerti, soalnya ada ibu Prita Mulyasari juga di sela-sela orang-orang yang tampil di atas. Hehehe..

DSC_0372

Continue reading “Pesta Blogger 2009: Sebuah Catatan Telat :D”

Batik Day

batikHari ini, tanggal 2 Oktober 2009, hampir seluruh rakyat Indonesia memakai batik! Yaaa, mungkin gak secara keseluruhan sampai di pelosok-pelosok, tapi paling nggak.. sejauh mata memandang, pakaian batik dengan berbagai macam model ada di mana-mana hehehe.. Menurut Wikpedia, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menunjuk batik Indonesia sebagai mahakarya warisan budaya (World Heritage) manusia, tepat pada hari ini.

Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “nitik“. Kata batik sendiri meruju pada teknik pembuatan corak – menggunakan canting atau cap – dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak “malam” (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing. Jadi kain batik adalah kain yang memiliki ragam hias atau corak yang dibuat dengan canting dan cap dengan menggunakan malam sebagai bahan perintang warna. Teknik ini hanya bisa diterapkan di atas bahan yang terbuat dari serat alami seperti katun, sutra, wol dan tidak bisa diterapkan di atas kain dengan serat buatan (polyester). Kain yang pembuatan corak dan pewarnaannya tidak menggunakan teknik ini dikenal dengan kain bercorak batik – biasanya dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak (print) – bukan kain batik.

Ada dua jenis batik, berdasarkan dari cara pembuatannya:
* Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
* Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.

Continue reading “Batik Day”

Blogger Peduli, Pedulikah Kamu?

banner-460x90.jpg

Berawal dari ide seorang Epat yang kemudian dilemparkan ke milis KopdarJakarta, mengajak teman-teman di milis tersebut untuk membentuk Blogger Emergency Respons Team. Blogger Emergency Respons Team ini diharapkan untuk men-support bencana-bencana yang memang sering terjadi di negeri ini. Disamping kekuatan blogger selama ini adalah dari sisi viral publishernya untuk sisi informasi lokasi bencana yang lebih aktual, aksi-aksi sosial selama ini yang sudah dikerjakan oleh teman-teman blogger bisa sebagian di berikan ke daerah-daerah bencana ataupun bahkan bisa dilanjutkan untuk membantu pada daerah bencana tersebut. Istilah Blogger Emergency Response Team ini kemudian berganti menjadi Blogger for Humanity, dan kemudian diganti lagi menjadi Blogger Peduli.

Kemudian tidak lama saya menemukan Ndorokakung menulis di plurknya tentang hal ini, yang akhirnya membuahkan beberapa ide, salah satunya membuat milis sebagai wadah komunikasi, dan membuat blog khusus untuk aksi ini. Blognya bisa diintip di sini. Di plurk tersebut pun saya berharap agar aksi ini dapat dimaksimalkan dan digaungkan secara nasional dengan melibatkan seluruh komunitas blogger di Indonesia ini, tidak hanya terkonsentrasi ke daerah-daerah tertentu saja. Terlibat dalam artian ambil bagian dalam prosesnya.

Blogger Peduli mengajak seluruh teman-teman blogger se-Indonesia turut berpartisipasi dan terlibat bersama-sama memikirkan bangsa dan negara kita yang sering terkena bencana. Tidak usah jauh-jauh sampai ke negara orang untuk melakukan aksi sosial, tapi benahi dulu di negara sendiri. Masih banyak saudara sebangsa dan setanah air yang menjadi korban bencana. Mereka juga sangat memerlukan pertolongan dan kasih sayang kita semua, mereka butuh perhatian dan bantuan agar mereka dapat melanjutkan hidup.

Seringkali berita bencana di negara sendiri “tertutupi” oleh berita di negara lain yang lebih dashyat, menyebabkan minimnya kabar tentang korban bencana dan mereka yang lebih membutuhkan bantuan. Mungkin pepatah yang cocok untuk ini adalah “semut di seberang lautan nampak jelas, gajah di pelupuk mata kasat mata“.
Di sini lah keterlibatan kita sebagai blogger, yang memegang kendali atas pemberitaan di dunia maya. Kalau bukan kita yang bergerak sekarang, siapa lagi?

blogger_peduli.jpg

Blogger Peduli adalah jaringan blogger dan komunitas blogger di Indonesia yang peduli pada isu-isu tentang bencana dan terutama penanganan korban bencana.
Kepedulian terhadap bencana sengaja menjadi fokus perhatian mengingat Indonesia adalah wilayah yang rawan bencana, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi dan vulkanik, juga tsunami. Upaya pemerintah dipandang kurang memadai ketika menolong para korban. Blogger sebagai bagian dari masyarakat madani perlu ikut membantu meringankan penderitaan para korban bencana.
Blogger Peduli menyediakan berita dan informasi mengenai bencana di Indonesia melalui blog. Blog Blogger Peduli dikelola bersama oleh komunitas blogger di seluruh Indonesia. Gerakan ini juga terbuka terhadap semua bentuk bantuan dan kerja sama dengan pihak lain, termasuk pakar bencana yang hendak berbagi pengetahuan.
Blog Blogger Peduli menjadi sarana komunikasi dan berbagi antarsesama blogger maupun antara blogger dan masyarakat luas, serta dokumentasi isu dan kegiatan para blogger yang berkaitan dengan bencana.

Mau gabung dengan Blogger Peduli? Silakan subscribe di Milis Blogger Peduli.

Blogger peduli, pedulikah kamu?

Posting terkait:
Misi Pecas Ndahe
Saatnya “Blogger Peduli”
Blogger Peduli, Jaringan Blogger Peduli Sesama
Blogger Peduli