Terlambat

Di hari yang cerah, sepasang kaki melangkah dengan ringan dan pasti. Pada penjual bunga, sepasang kaki itu berhenti. Kemudian melangkah lagi, hingga terhenti pada sebuah kedai es krim, lalu melanjutkan langkah. Tetap dengan ringan dan ceria.
Setelah beratus-ratus langkah, sepasang kaki tersebut mempercepat langkah. Berlari, seiring dengan perubahan cuaca yang cerah menjadi mendung berawan. Lebih cepat, dan cepat.

Sampai di suatu titik, sepasang kaki tadi akhirnya memperlambat langkahnya, tertatih. Lelah, dan melambat. Sesekali tersandung batu atau terjatuh karena lubang di jalan. Hari mulai semakin gelap dan hujan mulai membasahi tanah.

Kemudian tiba di depan pintu, yang telah tertutup.

Terlambat.

And it’s too late, baby, now it’s too late
Though we really did try to make it
Something inside has died and I can’t hide
And I just can’t fake it

Berhenti

Ada waktunya kita berhenti untuk berbicara.
Ada waktunya kita berhenti untuk berpikir.
Berhenti di mana kita memutar arah.
Dan terpaku seperti mobil yang sedang diparkir.

Berhenti pada suatu tujuan, atau berhenti pada saat menuju sebuah tujuan.
Itu semua adalah pilihan.

Saat berhenti, apakah kita akan berjalan lagi? Atau ke kiri? Ke kanan? Atau mutar balik?
Semua adalah pilihan yang harus diambil.

Kita tidak bisa bilang “I have no choice” dalam menghadapi hidup, sebab dalam menjalani kehidupan kita akan selalu dihadapkan pada banyak pilihan untuk menentukan langkah.

Berhenti untuk bertemu
Berhenti untuk berpisah
Berhenti untuk melupakan

Dan pada saatnya, waktu pun akan berhenti.

I was cryin’ when I met you
Now I’m tryin’ to forget you
Love is sweet misery

#MyanmarTrip – The Departure

Mendengar kata “Myanmar”, beberapa dari kita pasti langsung teringat dengan film hollywood “The Lady” yang mengisahkan tentang perjuangan dan biografi dari Aung San Suu Kyi. Negara ini merupakan salah satu negara yang bukan tujuan favorit di Asia :D tapi entah kenapa, saya malah jadi lebih penasaran untuk ke Myanmar ini.

One backpack only for 5 days in Myanmar.
One backpack only for 5 days in Myanmar.

Continue reading “#MyanmarTrip – The Departure”

Weekly Photo Challenge : Lunchtime

Eating is something that you should do if you a human. Of course, any mankind on this earth surely like to eat. Especially when we are in a deep hungry state.

Anyway, in the big city, lunchtime has so many meaning. Lunch meeting, lunch date, etc. And lunch typically falls in the early-middle of the working day, it can either be eaten on a break from work, or as part of the workday. The difference between those who work through lunch and those who take it off could be a matter of cultural, social class, bargaining power, or the nature of the work.

Regularly, I cooked my own lunch, and bring it to the work. It is just for financial reason :p but when I woke up late or when I just don’t have any mood to cook, I will have lunch nearby my workplace. Nothing special with my daily lunchtime.

Last Christmas day, I had lunch with some of my family. It was something that unusual, since we are rarely meet each other. Here’s a picture of us, happily eating those Szechuan dining.

Family lunch on Christmas day (2012).
Family lunch on Christmas day (2012).

And here is a picture of a friend who is really enjoy her lunch hahaha..
I took the picture with my HTC One S phone :)

@ssetiawan with 4 portion of Coto Makassar! :D
@ssetiawan with 4 portion of Coto Makassar! :D

And how about your lunchtime? Anything delicious?

–Inspired from Weekly Photo Challenge: Lunchtime.

Hello Again

Hello blog, how are you?

Sudah cukup lama blog ini ditinggalkan, hingga udah penuh jaring laba-laba sana sini haha :D Baru sadar, postingan terakhir itu bulan November 2012. I even didn’t write about my resolutions, my kaleidoscopes, like others did.

So much things to do, so much things to think, so much problems in the head, bikin jadi gak kreatif dan gak bisa ngapa-ngapain. Well, I am not gonna blame my problems, but I’m gonna blame myself, kenapa nggak mau berusaha untuk bisa nulis paling enggak beberapa postingan >.< blogging

Lately I met this passionate blogger in Malang, Ghea, di sebuah acara bernama WikuFest 2013. Kenapa saya bisa nyasar ke acara WikUFest itu, akan ada satu postingan tentang itu khusus :) atau bisa baca di sini. Point yang ingin saya ceritakan di sini adalah.. Ghea ini bikin saya teringat sama masa muda *ceritanya sekarang sudah tua karena sudah sering encok haha* yang selalu menggebu-gebu dan bersemangat untuk membuat sesuatu yang kreatif dan belajar lebih banyak. At least, itu yang saya tangkap dari beberapa kali berinteraksi dengan Ghea. Jenis blogger yang sudah cukup langka di jaman sekarang ini.

DSC08233

Dan karena Ghea dan teman-temannya, saya jadi memacu diri nulis blog lagi *ah-lesyan* dan pingin bisa rutin nulis lagi seperti dulu. Recharged, I guess? :D

Semoga bisa terlaksana ^_^

#My2010

Ya ya saya tau, ini postingan telat, sebab tahun baru sudah lewat kurang lebih 2 minggu yang lalu :P

#My2010 adalah salah satu hashtag yang beredar di salah satu jalur jejaring sosial: Twitter. Varian lain dari hashtag ini adalah #2010was yang sempat menjadi trending topic di hari terakhir tahun 2010 kemaren.

Berikut di postingan ini saya ingin cerita2 tentang tahun 2010 saya. Tahun ini adalah tahun yang gado-gado untuk saya. Ada susah, ada senang, ada sedih, ada marah, ada kesal, ada benci, semua bercampur jadi satu. Dan di akhir tahun ini, saya hanya bisa tersenyum mengingat semua yang telah terjadi di tahun ini.

Siap-siap berlama-lama di sini, karena postingan ini sangat panjang dan penuh foto2 :D

Continue reading “#My2010”

Desember: Sebuah Renungan

Tidak terasa, sudah bulan Desember. Kembali menghadapi akhir tahun. Lagu-lagu Natal mulai diputar di beberapa mal, hiasan Natal mulai menghiasi beberapa toko, bahkan sale untuk Natal pun mulai berjalan. Tak ketinggalan, biasanya kalau Desember, pak polisi pun punya tradisi: Operasi Lilin. :D

Tadi di salah satu mal, saya mendengar lagu kesukaan saya di saat bulan Desember. Judulnya The Christmas Song. Lagu yang dimulai dengan kata-kata “…Chestnuts roasting on an open fire…” itu sangat syahdu dibawakan oleh Nat King Cole. Musiknya pun sangat indah, dan membuat saya dapat merasakan suasana dan kehangatan Natal, walaupun saya lagi ga di depan api yang menghangatkan. Mungkin itulah mengapa judulnya The Christmas Song.

Dan lagu ini pun membuat saya makin diam dalam renungan.

Anyway, di bulan yang paling terakhir di tahun ini, mau tidak mau membuat kita menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa saja yang telah dilakukan tahun ini? Adakah sesuatu yang berguna? Apakah saya menikmati tahun ini? Adakah resolusi tahun ini yang tercapai? Ada banyak hal yang membuat kita sontak merenung dan berkontemplasi.

Jadi, bagaimana dengan tahun ini?
Apakah kalian sudah melakukan sesuatu yang bermanfaat, sesuatu yang berarti di tahun ini?
Let’s ask ourselves.