#JavaRoadtrip : 24 jam pertama

Jadi libur Lebaran kemarin, saya ngikut si dia ke kampung halamannya di Malang, Jawa Timur. Sejak jauh-jauh hari sudah merencanakan perjalanan ini, dari Jakarta ke Malang akan menggunakan si Rushty, yang artinya akan melakukan perjalanan darat dengan menggunakan mobil, serta nyetir sendiri.

Perjalanan darat Jakarta – Malang bukanlah hal pertama yang pernah kami lakukan. Tahun 2009 kemarin, adalah perjalanan pertama kami, di mana kedua orang yang berpergian ini dua-duanya pertama kali lintas Jawa dengan menggunakan mobil dan nyetir sendiri ^__^ modalnya hanya Google Map supaya gak nyasar hihi :D

Anyway, seperti yang sudah direncanakan, kami berangkat dari Jakarta pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 2012, tepat pukul 23.00 berangkat dari area Jakarta Selatan, lalu menggeber tol JORR – Cikunir. Perjalanan sampai Cikunir baik-baik saja. Yang kami sempat khawatirkan adalah mampet di Gerbang Tol Cikarang Utama, yang memang sering menjadi biang kemacetan di dalam jalur tol Jakarta – Cikampek. Namun ketika melewati GT Cikarang Utama, aman..!! Maka dengan hati riang kami melanjutkan perjalanan, diiringi oleh berbagai macam musik yang udah dikemas dalam playlist khusus untuk perjalanan ini.

All the way to Cikampek

Namun keriangan ini tidak berlangsung lama. Memasuki km 67, alur traffic pun mulai padat merayap. Tercatat pada jam di mobil yaitu sekitar 23.30 malam. Dan ini berlangsung terus hingga 4 jam kemudian baru bisa lolos dari gerbang tol Cikampek. Saat masih macet-macetan menuju gerbang tol Cikampek, beberapa kali kami kaget, sebab mobil-mobil di belakang mobil kami kok mendadak hilang, atau malah sepi sama sekali. Belakangan baru tahu bahwa mobil-mobil tersebut dialihkan ke tol Cipularang karena kemacetan sudah sangat panjang. Dan ternyata arah Cikampek udah ditutup beberapa jam setelah kami melewati area tersebut. Yang mau ke arah Cikampek dll diarahkan melalui tol Sadang atau Purwakarta, dan itu merupakan masalah kemacetan lainnya lagi :D

Menjelang gerbang tol Cikampek

18 Agustus 2012
Lolos dari gerbang tol Cikampek ini bukan suatu kelegaan, melainkan merupakan titik dimulainya perjalanan yang panjang ini hehehe. Dari gerbang tol Cikampek kembali bergabung dengan arus kemacetan dari berbagai arah. Setelah menempuh waktu 2 jam, akhirnya kami transit di Alfa Mart Cikopo. Transit tersebut, sekalian untuk ke toilet, meluruskan punggung, dan saya sempat sarapan ringan.

Kurang lebih 20 menit transit, kami lalu melanjutkan perjalanan. Dan ternyata kami telat beberapa menit, yang harusnya belok ke jalan Jomin By Pass, jadinya diarahkan melalui pasar lalu ke Jomin. Dan hasilnya sangat macet. Lagi-lagi totally complete standstill. Sampai matiin mesin mobil, duduk-duduk di jalan, foto-foto, bahkan saya sempat kabur sebentar untuk numpang pipis di hotel Mutiara yang terletak di dekat situ :D

Kemacetan Cikopo – Jomin

Dan kocaknya, di tengah-tengah kemacetan seperti itu, dan saat itu masih bulan puasa, tiba-tiba ada suara penjual tahu goreng melintas sambil menjajakan jualannya, “Tahu tahu tahu.. tahu tahu tahu..” Hihihi jadi geli sendiri. Ini yang mau beli siapa, kok jualan di tengah-tengah orang yang lagi puasa :D ah namanya juga usaha *pukpuk tukang tahu* :D

Macet? Santai ajaa.. :))

Kira-kira sekitar pukul 08.30 pagi, tiba-tiba akses menuju Jomin By pass dibuka. Sontak orang-orang pada putar balik, termasuk mobil kami pun demikian. Ada yang saking semangatnya mau putar balik, sampai naik di atas trotoar. Hihi sabar, pak :D

Semangat banget putar baliknya, pak! :D

Kesenangan itu tidak berlangsung lama. Setelah putar balik, memasuki Jomin Bypass, eh, gak lama ketemu lagi kemacetan :D dalam waktu setengah jam, hanya maju beberapa meter saja. Kurang lebih 2 jam baru kami bisa melalui Jomin Bypass tersebut, dan bertemu dengan kemacetan lainnya sepanjang Pangulah – Patokbeusi – Ciasem – Pamanukan. Jreng!

Macet? Baca buku aja :D

12 Jam
Jarak dari Jomin Bypass – Pamanukan adalah kurang lebih sekitar 35 km, dengan waktu tempuh normal kurang lebih 41 menit. Jarak tersebut dijalani oleh kami sebanyak 12 jam. Hahaha. Benar-benar rekor untuk perjalanan roadtrip selama yang pernah saya alami. Bolak-balik saya mengecek twitter, berita-berita di media online, dengerin radio, dll dsb. Semua memberikan berita yang sama. Dan ternyata kemacetan ini telah berlangsung sejak 2 hari sebelumnya. Ya ampun -__-”

Yak, padat merayap tanpa harapan -__-“

Titik penyebab kemacetan yang diberitakan adalah habisnya bahan bakar kendaraan bermotor di salah satu SPBU Pertamina sebelum Hotel Markoni – Pamanukan, yang menyebabkan kepadatan kendaraan yang sangat parah. Selepas Hotel Markoni tersebut, traffic sangat lancar jaya.

Tetapi kalau menurutku, penyebabnya bukan habisnya bahan bakar di SPBU tersebut. Tetapi ulah para pengemudi dan pengguna jalan, baik untuk kendaraan sebesar bis maupun kendaraan mobil atau motor biasa. Mungkin awalnya adalah kehabisan bahan bakar di SPBU tersebut, kemudian berimbas menjadi padat karena ada antrian kendaraan atau parkir kendaraan yang berlebihan di satu SPBU. Tetapi apabila hal tersebut dapat diatasi, mungkin tidak akan berlarut sampai berhari-hari.

Dengan perjalanan yang penuh drama (baca: kebelet pipis, kelaparan tapi makan sedikit supaya gak pingin pup, haus tapi berusaha minum dikit supaya gak pipis2) kami tetap melanjutkan perjalanan. Dan masih dalam penantian panjang tersebut, di daerah Sukamandi, ternyata ada biang kerok kemacetan lainnya, selain masalah SPBU tadi. Apa itu?

Jadi di tengah panjangnya kemacetan tersebut, ternyata banyak pengemudi yang tidak sabar. Mereka kemudian mengambil jalur sebaliknya untuk semena-mena dijadikan contra flow. Akibatnya, di ujung sana, kendaraan dari arah sebaliknya jadi macet panjang juga. Jadi ruwet. Sedangkan petugas lalu lintas, tidak terlihat di mana-mana. Kalaupun terlihat, hanya sekedar lewat doang sesekali tapi gak terlihat turut membantu jalannya proses mudik ini.

Pembatas jalan dihancurkan :O

Hal lain, karena kendaraan-kendaraan yang maksa contra flow itu pada gak bisa jalan terus karean tertahan oleh kendaraan dari arah sebaliknya, maka mereka pun memaksa untuk putar balik, maupun memotong jalan dan masuk kembali ke jalur sebenarnya. Karena banyaknya kendaraan yang mau kembali di jalur sebenarnya, dan waktu sudah terlalu lama terbuang, maka dibantu dengan masyarakat sekitar, mereka menghancurkan pembatas jalan antara jalur kanan dan kiri, agar para bis-bis yang tadinya contra flow itu, dapat langsung bergabung ke jalur sebenarnya tanpa harus menunggu celah khusus yang telah disediakan.

Bis-bis yang terjebak di jalur sebelah, maksa masuk kembali ke jalur sini melalui pembatas jalan yang telah dihancurkan.

-____-”

Karena macet yang sangat panjang, bahan bakar yang telah kami isi full tank sejak berangkat dari Jakarta, tinggal 2 bar menjelang SPBU yang terletak 2 km sebelum Hotel Markoni – Pamanukan. Pitstop sejenak untuk ke toilet dan mengisi perut yang sejak pagi belum diisi dengan makanan yang baik dan benar. Cuman cemilan-cemilan ringan yang berani kami makan selama di mobil itu. Dan karena semua makanan sudah habis, hanya mie goreng indomie yang menjadi satu-satunya pilihan.

Setelah makan, kami pun ngantri sekitar 1/2 jam untuk mengisi bahan bakar. Dan si Rushty yang biasanya minum Pertamax, dipaksa minum Premium sebab menurut petugas SPBU-nya, Pertamax-nya habis dan stock baru masih di jalan menuju SPBU tersebut. Oh forget it, mendingan kasih minum Rushty dengan apa aja yang ada lalu lanjutkan perjalanan.

Pertamak habis :D *err.. should be pertamax* :))

Perjalanan pun dilanjutkan, tapi tidak lama. Walau lancar jaya setelah SPBU terakhir tersebut, namun energi yang ada telah terkuras habis karena bermacet-macetan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk istirahat, dan pitstop di SPBU 34.452.19 Lohbener – Indramayu. Di sana kami makan malam lagi, dengan menu 1 Nasi Soto Ayam, 1 Nasi Goreng, dan 2 Teh manis hangat. DC Rp50.000,-. Dipalak nih -__-”

Dan di SPBU itupun kami beristirahat, dan berencana untuk bangun sekitar pukul 05.00 dan melanjutkan perjalanan lagi.

(to be continue…)

**Intip juga postingan Nuy di sini, sini, sini, sini, dan sini.

Related posts :

21 thoughts on “#JavaRoadtrip : 24 jam pertama”

  1. hahaha, luar biasa..

    1) orang yg dalama perjalanan ndak apa2 ndak puasa, namanya musafir. jadi ya cocok mi kalo ada yg jual tahu

    2) kenapa pertamak? karena pertamax sudah dipake semua sama anak KasKus
    :P

Leave a Reply