#RepublikTwitter

Hari ini (10 Februari 2012) saya diundang untuk mengikuti Press Screening film “Republik Twitter” di Platinum XXI – fX Lifestyle X’enter – Jakarta. Senang sekali mendapat privilege untuk menonton film yang rencananya akan ditayangkan untuk umum pada tanggal 16 Februari 2012 ini.

Sinopsis
“Sekarang ini, suara rakyat itu suara twitter”

Kalimat itu diucapkan oleh Kemal (Tio Pakusadewo), yang bekerja sebagai Konsultan Komunikasi, kepada Arif Cahyadi (Leroy Osman), seorang pengusaha, yang namanya mendadak jadi trending topic di twitter. Keberhasilan Kemal mengangkat nama Arif di dunia maya, lantas membuatnya mendorong Arif untuk maju dalam pencalonan gubernur DKI Jakarta. Sukses Kemal itu ternyata berkat kepiawaian seorang pemuda bernama Sukmo (Abimana Aryasetya) yang tekun dan lihai mengolah 140 kata.

Sukmo, mahasiswa tahun akhir di Jogjakarta, awalnya datang ke Jakarta tidak untuk bekerja. Dia datang untuk mengejar komitmen cinta dari seorang wartawan cantik bernama Hanum (Laura Basuki). Keduanya saling kenal lewat twitter. Dari twit berbalas twit, hubungan mereka menjadi semakin dekat hingga Hanum menantang Sukmo untuk bertemu di Jakarta. Andre (Ben Kasyafani), teman satu kos Sukmo yang berasal dari Jakarta, mencibir rencana Sukmo. Sementara Rika (Jennifer Arnelita), rekan kerja Hanum, juga menasehati Hanum untuk tidak mempercayai hubungan yang dimulai dari dunia maya.

Pada saat pertemuan yang dijanjikan, kepercayaan diri Sukmo runtuh begitu melihat Hanum dari kejauhan. Perempuan itu ternyata jauh lebih cantik dari foto profilnya di twitter. Apalagi dia kemudian melihat laki-laki lain, Gery (Gery Iskak) menghampiri Hanum. Sebelum Hanum melihatnya, Sukmo memutuskan pergi . Dunia nyata ternyata tidak seindah dunia maya. Di saat bersamaan, Sukmo mendapat tawaran kerja dari Belo (Edy Oglek) yang juga mengenalnya lewat twitter. Demi mengubah dirinya menjadi “laki-laki Jakarta” Sukmo menerima tawaran itu.

Di Warnet Belo, Sukmo diminta mengelola akun twitter “orang-orang penting”, termasuk menjadikan Arif Cahyadi trending topics sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Kemal. Semuanya berjalan dengan lancar. Dalam tempo singkat Sukmo mendapatkan uang yang lumayan sehingga dia cukup percaya diri untuk bertemu dengan Hanum. Sementara di kantornya, Hanum tengah tertekan. Dia tidak kunjung mendapatkan topik menarik untuk dijadikan berita. Kalaupun dia temukan, gagasan itu langsung diklaim oleh atasannya. Di rumah, ayahnya terus mendesak Hanum agar meninggalkan profesi wartawan yang tidak menghasilkan. Hingga pada satu titik akhirnya Hanum memutuskan untuk meninggalkan dunia wartawan. Pada saat itulah Sukmo mengajaknya untuk bertemu.

Di luar perkiraan Sukmo, begitu melihatnya bergaya Jakarta, Hanum hilang selera. Bayangannya tentang Sukmo yang asik dan cuek sirna. Sukmo lebih kecewa lagi apalagi mengetahui Hanum hendak mengundurkan diri jadi wartawan, profesi yang dia kagumi dari perempuan itu. Dari sekedar ingin mendapatkan komitmen cinta Hanum, Sukmo bertekad untuk membatalkan keinginan Hanum mundur. Dia punya berita besar untuk dijadikan liputan utama oleh Hanum. Tetapi berita besar itu justru membuat Sukmo harus berhadapan dengan ambisi Kemal, reputasi Farid Cahyadi, kepercayaan Belo dan bahkan persahabatannya dengan Nadya (Enzy Storia) yang adalah pacar Andre.

Opini
Menurut saya, secara keseluruhan film ini lumayan bagus. Setidaknya dapat membukakan mata bagi masyarakat, utamanya para onliner, bahwa segala sesuatu yang heboh di twitter itu, tidak semuanya seperti itu adanya. Dari sisi jalan cerita, sayang sekali pada pertengahan film saya sudah dapat menebak jalan cerita selanjutnya hahaha :D jadi ketika film berakhir, saya tidak surprise :P

Di akhir acara, sempat ngobrol ama Kuntz Agus. Menurutnya dalam membuat film ini, salah satunya karena sering melihat #pencitraan, dan secara gak sadar itu yang menjadi layer untuk film ini, khususnya untuk sosok Arif Cahyadi. Dan menurut Kuntz Agus, semua di twitter yang tidak berkenaan di hal-hal penting adalah #pencitraan.

Oh well, apakah ini bagus dan layak tonton? Menurutku sih layak, terutama untuk kalian yang merupakan pengguna aktif jejaring sosial :)

I give 7 out of 10 to #RepublikTwitter :)

Related posts :

31 thoughts on “#RepublikTwitter”

  1. Kemarin itu tahu film ini dari status Tonyer di FB. Hehe. Asli ngakak. Karena baru sadar kalau teman yang bikin postingan Republik Twitter sebagai sebuah hujatan kritikan pada onliner di Twitter, ngambil dari film ini judulnya. Aku sendiri belum pernah nonton ini dan kalau memang berminat mengajakku nonton, tentu tak ragu diterima *ngarep* malah nggak kepikiran ini film isinya begini *Rara Spoiler!*. Kukira akan sama macam tema cinta-cintaan ala film/sinetron soal Facebook kemarin dulu itu. Haha.

    Setidaknya dapat membukakan mata bagi masyarakat, utamanya para onliner, bahwa segala sesuatu yang heboh di twitter itu, tidak semuanya seperti itu adanya.

    THIS.

Leave a Reply