Mahasiswa? Really?

Mendadak saya malu jadi orang Makassar! Siang barusan ini saya mendapat sebuah berita yang sangat memalukan melalui milis Blogger Makassar. Berita ini di-“tendang” oleh daeng Rusle dari milis Forum Pembaca Kompas.
Apa beritanya? Berita itu tentang mahasiswa UMI (Universitas Muslim Indonesia, mempunyai jas almamater berwarna hijau) di Makassar yang sedang demonstrasi. Para mahasiswa UMI tadi itu ramai-ramai memukuli salah seorang professor yang saat itu sedang dalam kondisi sakit hendak diantar ke Rumah Sakit Umum Wahidin, hanya karena anak beliau hendak memindahkan pagar penghalang jalan utama karena hendak buru-buru mengantar sang Professor ke Rumah Sakit..

Memalukan!
Di mana hati nuranimu sebagai mahasiswa?
Di mana perasaanmu sebagai manusia?

Saya sedih dan malu membaca hal ini. Bukan karena saya mahasiswa UMI, tapi hal-hal seperti ini, yang kena getahnya adalah seluruh mahasiswa di Makassar, dan nama kota Makassar semakin tercoreng akibat ulah keanarkisan para mahasiswa ini.

Katanya mahasiswa, kelakuan kok.. ah sudahlah..

Berikut cuplikan e-mail berita tadi:
———————————————

Subject: PERGURUAN TINGGI YANG SADIS DAN BRUTAL

Tadi pagi Selasa 24 April 2007, Prof Mappadjantji dosen FMIPPA Universitas
Hasanuddin yang sedang dirawat di ICCU RSU Wahidin Makassar karena serangan
jantung, menjalankan kewajiban sebagai anak yang harus melayat mertuanya Prof.
Syamsi Lili yang jenasahnya disemayamkan di Jl Kartini. Prof MA izin keluar ICCU
dilengkapi dengan botol infus dan diantar oleh seorang suster.

Dalam perjalanan kembali ke RSU Wahidin sepulang melayat, kendaraan mereka yang
melintas di jalan Urip Sumoharjo dilarang lewat oleh mahasiswa Universitas
Muslim Indonesia yang sedang demo. Walaupun Prof MA sudah memperlihatkan
kondisinya yang darurat lengkap dengan selang infus dan seorang suster yang
mendampingi, mereka tetap tidak diizinkan lewat.

Putri Prof MA, Vita yang menyetir kendaraan mengikuti keinginan mahasiswa untuk
masuk ke jalur angkutan kota pete-pete. Di mulut pintu keluar, jalan mereka
ditutup dan diwajibkan memutar haluan kembali ke kota. Melihat kondisi tersebut,
putra Prof MA, Bayu memindahkan kayu penghalang agar bisa lewat karena ayahnya
harus sesegera mungkin masuk ICCU kembali. Bayu kemudian dikeroyok hingga babak
belur oleh mahasiswa UMI, bahkan ketika sudah masuk ke mobil, Bayu ditarik
kakinya dipaksa turun untuk dihajar lagi. Melihat putranya babak belur, Prof MA
melupakan kondisinya penyakitnya, dan bergegas menolong anaknya dengan melawan
para mahasiswa yang brutal ini. Para mahasiswa tidak lagi mempedulikan bahwa
Prof MA adalah pasien emergency, beramai-ramai menyerang termasuk menarik
kacamata yang dipakai. Mahasiswa UMI berhenti menyerang ketika Prof MA berhasil
menangkap salah satu pimpinan mahasiswa.

Kejadian yang dialami Prof MA adalah satu dari sekian banyak kejadian yang
dialami pasien-pasien dengan ambulans yang membutuhkan pertolongan darurat
menuju RSU Wahidin diantara jadwal demo UMI yang tiada henti. Begitu banyaknya,
sehingga membuat kita bosan untuk membicarakan perilaku yang sangat tidak
manusiawi ini. Inikah perguruan tinggi yang menyebut dirinya Muslim, yang tidak
punya kepedulian terhadap orang yang sakit parah. Tidak pernah ada perhatian
apalagi rasa bersalah atau menyesal dari institusi mereka, bahkan dari polisi
yang selalu ketakutan tidak berani membela kepentingan orang yang nyawanya
berkejaran dengan waktu.-

wass,
Triyatni

———————————————

Posting terkait mengenai hal ini:
Demonstrasi mahasiswa UMI, MEMALUKAN!
Sensifitas
UMI Juga Bisa
Miris ma kondisi Mahasiswa Makassar
UMI menunjukkan kebodohan nya lagi
Perguruan Tinggi yang Sadis dan Brutal
Di Mana Kepekaan Kita
Putra Prof Mappadjantji Dikeroyok di Depan UMI (from Tribun Timur)
Mappadjantji-Mahasiswa Bersitegang (from Harian Fajar)
Ribuan Mahasiswa UMI Makassar Peringati Amarah 1996 (from Media Indonesia Online)
Stop Your Damn Violence!!!
Please Welcome, Mahasiswa Biadab!
Prof Mappajantji Dikeroyok Mahasiswa
Tantangan Buat Mahasiswa UMI – Makassar

Update 26/04/2007:
lagi bikin banner untuk “STOP KEKERASAN OLEH MAHASISWA”

23 thoughts on “Mahasiswa? Really?”

  1. MEMALUKAN…
    Mereka yang kebetulan beratribut mahasiswa universitas MUSLIM itu, gak layak mendapatkan status MAHASISWA dan MUSLIM secara apa yang mereka lakukan jauh dari idealisasi nilai keMAHASISWAan dan keISLAMan. Otak mereka hanya penuh dengan kebencian, kebrutalan dan semuanya bermuara pada satu kata KEBODOHAN! Tidak ada toleransi dalam kebiadaban ini, seharusnya nilai-nilai yang mereka emban saat berdemonstrasi membela hak-hak masyarakat juga diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan real nya, bukan hanya jargon kosong dan cuap-cuap demi popularitas di depan kamera TV atau di media cetak. MEMALUKAN!

  2. hikz.. mauka nangis bacai ini berita..keterlaluannya
    nda ada nya hati nuraninya…
    m a h a s i s w a
    m u s l i m
    sebauh akata yang amat sangat tidak tepat buat mereka
    tak berhati nurani *lap ingus* eh salah *lap air mata*

  3. hikz hikz kjadian ini bikin sedih ka, bukan sa tangisi UMI tapi saya, knapa saya yang diliat orang, tuh ada orang makassar, pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan ala introgasi, loh itu bukan saya plakunya. dasar brarti ini bukan masalah UMI saja kan brarti kita juga pokonya menyandang makassar kena getah nya

    hehehehe UMI tempat ngumpul na orang BODOH bikin malu lagi, knapa saya jadi sasaran pertanyaan yah …

  4. aduh om mappajanci kan tetangga aku. Kasian juga beliau jadi korban kebiadaban mahasiswa spesialis demo (UMI).
    om anci again serangan jantung lagi. oh God. I think this is the 2nd times.

  5. Arogansi yang dibudayakan…
    Sudah bosan mengumpat, mencela IPDN… tapi tampaknya masih banyak gajah didepan mata.

    Memalukan, yah. Lebih dari itu saya katakan biadab, setidaknya mereka harus menghormati orang tua. Makin tinggi sekolahnya kok makin biadab??? Aneh!

  6. ephie: iya nih.. saya juga malu :(

    daeng rusle: hiks.. typeless bener2 deh :(

    deen: mungkin waktu pembagian hati nurani, mereka ndak sempat datang :(

    mamie: sama.. saya juga nggak ngerti :(

    na: *nyodorin tissue buat lap ingus dan air mata*

    eko: ndak harus tinggal di luar Makassar untuk ditanya2 begitu. di milis-milis juga kalau sudah bicara tentang mahasiswa Makassar, yang langsung teringat adalah anarkisnya :(

    indrajati: hiks, padahal perawatan sakit jantung itu berpacu dengan detik lho :(

    bisot: pernah dengar joke omongan tukang becak tentang mahasiswa, ga?

    daeng: setuju!

    ardho: apa mungkin.. ternyata mereka adalah FPI juga.. *halah*

  7. turut berduka atas matinya nurani mahasiswa…idealisme tabrak tembok memang sedang laku…idealisme malu-maluin sampai malu-malu kucing sedang ngetrend…fiuh..

  8. Astaga… Prof-nya yang dipukli atau anak Prof-tsb? But, siapapun yang dipukuli Prof-nya atau anaknya, antekammaji anjo andi-andika bela…

    Aparat kemae ngasengji ano ka? Waktuku masih di Makassar, jangankanG mahasiswa yg bikinG onar, bahkan aparat yang kajili-jili grebek-grobak langsuN mentongji saya angkat bicara di koranG atau tabloid! Ku-pote-potei ngasengi dengan pedas! Tenamo kupaduli ka, tidak tonji ada yang saya takuti cez!

    Ballisi´kuja dengarki ini caritayya… Sayanna jauma kodong…:-(

  9. UMI? hmm.. sering gitu ya? kok kayaknya jarang terdengar beritanya di sini..

    Emang memalukan ya.. Sekasar2nya mahasiswa yg lagi demo, masak ya ngehantemin orang yg sakit gitu.

  10. Astagafirullah…
    Malu daku sebagai mahasiswa makassar, itu dia kenapa arun malas pulang ke makassar dan nggak mau ke sana lagi. Manusianya terlalu kasar bagi Arun. Arun mantan mahasiswa unhas yg hanya kuliah 3 bulan dan memutuskan keluar dari Unhas krn ospek yg biadab dan tidak berperikemanusiaan. Terus terang Arun akhirnya memutuskan kuliah di UMI karena berlandaskan muslim, alhamdulillah selama kuliah di sana tidak ada kekerasan yg terjadi. :)

    Tapi sekarang setelah mendengar berita tsb, malu arun sebagai mahaiswa keluaran UMI. Arun sangat membenci kekerasan yg banyak terjadi di kota kita :(. Kapankah kota Makassar menjadi tempat yang aman untuk ditempati?

    Hentikan kekerasan sekarang juga!!!!

  11. salam rara…
    tak sangka juga ada saja mahasiswa yang sperti itu.
    kaya’ org tak berakal saja.
    btw…makasih atas semangatnya ya….
    hidup blogger makassar…..

  12. betul Sekali katanya islam
    katanya mahasiswa
    harapan bangsa tapi gak punya hati nurani
    bagaimana mahasiswa sekarang apakah bisa diharapkan sebagai penerus bangsa,hal itu gak bisa terwujud klo gak adanya kesadaran

Leave a Reply