RSS
 

Archive for the ‘Travelling’ Category

Travelling to Bangkok (2)

22 Jul

Postingan ini merupakan sambungan dari postingan sebelumnya: Travelling to Bangkok (1).

Perjalanan dari Suvarnabhumi International Airport menuju Khaosan Road memakan waktu kurang lebih 45 menit. Sesaat setelah naik, supir taksi bertanya apakah mau pakai argo atau tidak mau pake argo. Kalau pakai argo mungkin bisa nawar. Tapi berhubung kami berdua tidak tahu menahu soal jarak dan harga yang pas untuk ke Khaosan Road, maka kami minta pak supir untuk menyalakan argonya saja. Dengan catatan harga di argo di luar biaya tol.

Gerbang tol pertama 25 Baht, dan gerbang tol kedua 45 Baht. Karcis tolnya cukup unik. Kalau di Indonesia karcis tol-nya serba ngirit dan komputerisasi, di Bangkok karcis tol-nya lebih besar dan manual. Bukan manual tulis tangan, tapi manual dilubangi pada gerbang tol yang dilewati. Total ongkos taksi yang harus dibayar adalah 470 Baht, tidak termasuk tarif tol tadi.

Tiba di Khaosan Road, taksi ternyata tidak bisa masuk karena pada malam hari jadi car free night :D untungnya Rikka Inn ini terletak di ujung Khaosan Road yang dekat Burger King. Jadi dari ujung jalan pun tidak terlalu jauh.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


 
 

Travelling to Bangkok (1)

20 Jul

Akhirnya, setelah di-pending 3 kali karena 3 bulan terakhir ini Bangkok sempat rusuh, saya berangkat juga ke Bangkok. Saya berangkat bareng Golda. Karena tiket yang saya pakai adalah tiket voucher gratisan, maka pengurusannya pun tidak melalui website Air Asia seperti biasa, tetapi melalui staf Air Asia Office Management. Namanya mbak Kristina.

Hingga hari Senin kemarin, saya sama sekali belum pegang tiket. Hanya tau kalau saya akan berangkat ke Bangkok hari itu juga, karena sudah dijadwalkan setelah penundaan terakhir. Jadi hari Senin kemarin, jam 11.00 saya sudah tiba di kantor Air Asia Office Management, Bandara Soekarno Hatta terminal 1A, lantai 2, untuk mengambil tiket dari mbak Kristina. Kemudian ke terminal 3 untuk bayar pajak tiketnya (harga tiket sih Rp 0.- hehehe), kemudian kembali ke terminal 2D untuk cek in dan siap berangkat pukul 16.20 dengan menggunakan QZ 7716.

Lembaran konfirmasi dari mbak Kristina untuk bayar pajak dan cek in

Masuk ke terminal 2D Bandara Soekarno – Hatta, ternyata Air Asia punya sistem antrian yang baru, demi mencegah lamanya antrian. Terakhir naik Airasia ke Kuala Lumpur, bulan Oktober yang lalu, sistem check-in masih manual dan pakai ngantri2 :P

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


 
 

SOLO: Sharing Online Lan Offline (Day 1)

12 Jun

SOLO, Sharing Online Lan OfflineWeekend kemarin saya menyempatkan diri ke Solo. Kalau di TripIt, Solo dinamakan sebagai Surakarta. Ya, kota yang dikenal luas dengan nama Solo ini, sebenarnya nama aslinya adalah kota Surakarta. Di Indonesia, Surakarta merupakan kota peringkat kesepuluh terbesar (setelah Yogyakarta). Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo.

Lalu ngapain saya ke Solo? Jadi begini, tanggal 5-6 Juni 2010 kemarin, komunitas blogger Bengawan Solo mengadakan acara yang bertajuk SOLO: Sharing Online Lan Offline. Acara ini merupakan ajang pertemuan blogger dan pengguna aktif teknologi informatika dengan masyarakat luas yang membutuhkan teknologi serupa untuk meningkatkan kualitas hidup bersama. Banyak kelompok perajin dan masyarakat yang sejatinya bisa lebih cepat mengembangkan diri, usaha dan komunitasnya dengan menggunakan internet, namun masih terkendala banyak sebab. Melalui diskusi-diskusi di forum Sharing Online Lan Offline inilah, banyak pihak diharapkan bisa saling menginspirasi.

Saya tiba di Solo jam 3 subuh, hari Sabtu, tanggal 5 Juni 2010. Di subuh itu, kota Solo masih sepi. Kendaraan yang saya tumpangi membelah jalan Slamet Riyadi, mencari Graha Solo Raya yang akan menjadi tempat dilaksanakannya acara SOLO: Sharing Online Lan Offline ini. Setelah menandai letak Graha Solo Raya, saya dan rombongan pun mencari tempat untuk sekedar meletakkan kepala dan tubuh yang telah duduk di atas kendaraan selama 12 jam lamanya ini.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


 

The Horizon

12 Mar

The Horizon

Camera: Fujifilm FinePix V10
Exposure: 0.005 sec (1/220)
Aperture: f/7.4
Focal Length: 6.3 mm
ISO Speed: 64
Tanggal: 11 Maret 2009
Lokasi: Selat Karimata, Indonesia.

Possibly Related Posts:


 

Tertambat

08 Mar

tertambat

Lokasi: pulau Tambelan, Kepulauan Riau.
Tanggal: 27 Februari 2009
Dengan menggunakan Digital Camera Fuji FinePix V10.

Possibly Related Posts:


 

Dari Jendela Kapal

19 Feb

dari jendela kapal

Lokasi: perairan Tambelan, Kepulauan Riau.
Tanggal: 30 Januari 2009
Dengan menggunakan Digital Camera Fuji FinePix V10

Possibly Related Posts:


 

PTT (Pegawai Tidak Tetap) -part 2-

20 Oct

Sebelumnya saya minta maaf, blog jadi jarang terupdate hehehe.. Yah maklum, setelah menginjak lokasi PTT, ternyata sinyal yang ada hanya GSM saja. GPRS ada sih tapi kata orang Indosat masih numpang di jalur voice, jadi ya gak secepat di kota-kota besar gitu lho :P Blackberry-ku pun ngos-ngosan mencari sinyal sampai baterainya cepat panas. Yah untung lah saya memakai blackberry, jadi masih bisa terima email dan sedikit browsing kalau perlu, minimal Y!M lah hehehe.

Ok, saya lanjut cerita saya. Terakhir postingan saya tentang PTT ini, waktu hari pertama saya baru tiba di Tanjung Pinang – Bintan. Nah ini keesokan harinya, saya dan adik kelas saya, Ermyta, pergi ke Dinas Kesehatan Propinsi Kepulauan Riau untuk melapor. Saya melapor untuk memberitahukan bahwa saya sudah tiba di propinsi tersebut untuk melaksanakan tugas PTT. Ternyata rombongan para dokter / dokter gigi PTT yang sama-sama bertugas di Kepulauan Riau hari itu sudah berangkat ke lokasi masing-masing. Dapat sedikit teguran hehehe :P

Setelah sedikit mendengar “ceramah” pegawai yang saya temui di Dinas Kesehatan Propinsi Kepulauan Riau tersebut, saya pun dikasih surat pengantar untuk melapor ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan. Untungnya sih, kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan ini berada kota Tanjungpinang juga. Tidak seperti kantor Dinas Kesehatan kabupaten-kabupaten lainnya dalam propinsi Kepulauan Riau ini, harus menempuh sekian jam naik kapal untuk ke kantor dinas-nya. Misalnya kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun yang berada di kota Tanjung Balai, harus naik kapal ferry ke Tanjung Balai selama 4 jam.

Oh iya, sebelum meninggalkan kantor Dinas Kesehatan Propinsi Kepulauan Riau, saya disuruh menandatangani NOTA KOSONG! Saya sempat terperangah, mengapa saya harus menandatangai nota kosong ini? Tapi saya malas cari masalah dan berdebat, ya sudah saya tandatangani saja. Bentuk nota kosong tersebut saya kenali, soalnya saya harus menandatangani nota yang serupa ketika saya menerima uang jalan + uang pengganti tiket pesawat dari Makassar ke Tanjung Pinang. Ketika saya cerita ke beberapa teman saya yang juga sedang PTT di Kepulauan Riau (tapi mereka mulai dari periode bulan Juli 2008, saya bulan September 2008), seharusnya saya menerima sejumlah uang lagi untuk transportasi ke kabupaten lokasi PTT saya. Wah, ada yang ga beres di sini *geleng2 kepala*

Kemudian saya pun ke kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, masih diantar oleh Ermyta. Di sana saya bertemu langsung dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, Bpk. Puji, kemudian diarahkan untuk berurusan dengan bagian Biro Kepegawaian Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan. Saya kemudian menerima surat tugas yang menyatakan bahwa saya ditugaskan di Kecamatan Tambelan. Sebelumnya saya sudah mendengar sedikit isu-isu bahwa Tambelan itu adalah sebuah pulau yang sangat jauh dan sangat terpencil di Kabupaten Bintan, serta merupakan daerah kecamatan yang paling jauh dari Kabupaten Bintan. Alamak!

Masih di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, di sana saya diminta untuk menyetor fotokopi rekening giro untuk kepentingan transfer gaji dan insentif yang akan saya terima mulai bulan depannya. Juga fotokopi ijazah Dokter Gigi, surat Sumpah Dokter Gigi, dan Transkrip Nilai, serta foto 3 x 4 sebanyak 2 lembar. Ketika mengurus, saya bertemu dengan salah satu pegawai Dinas yang bernama Rama Agustian. Ternyata dia merupakan salah satu dari staf Puskesmas Tambelan yang sedang tugas belajar di Tanjung Pinang. Dia langsung ngajak ngobrol banyak ketika mengetahui bahwa saya ditugaskan di Puskesmas Tambelan.

Dia lalu bercerita banyak mengenai Tambelan, dan memberikan informasi yang sangat lengkap (menurut saya) sebagai gambaran buat saya seperti apa di Tambelan itu. Terus terang mendengar nama Pulau Tambelan pun saya baru kali ini.

Beberapa informasi tentang Pulau Tambelan yang saya ketahui dari Rama, yaitu:
- Pulau Tambelan merupakan kecamatan yang paling jauh dan terpencil di Kabupaten Bintan.
- Jumlah penduduk di Kecamatan Tambelan hanya sekitar 4.000 jiwa.
- Penduduknya hidup tidak terpisah-pisah dalam kecamatan tersebut. Maksudnya, jarak antar rumah itu berdekatan satu sama lain.
- Letak pulau Tambelan sebenarnya lebih dekat dengan Kalimantan Barat. *huah*
- Transportasi ke pulau Tambelan hanya melalui jalur laut, alias naik kapal. Kapal yang ada pun bukan kapal seperti kapal Pelni, melainkan kapal perintis. Kapal perintis itu sejatinya adalah kapal barang yang dipakai untuk mengangkut orang hehehe.. Jadi bayangkan saja lah pasti tidurnya di dek tuh hehehehe.
- Jarak tempuh dari kota Tanjung Pinang ke pulau Tambelan dengan menggunakan kapal perintis, adalah 22 – 24 jam lamanya.
- Frekuensi kapal perintis ke / dari Tambelan, sekali dalam 12 hari. Maka dalam 1 (satu) bulan hanya 2 (dua) kali.
- Ada kapal penumpang yang ke / dari Tambelan, namanya KM. Gunung Bintan. Tapi lamanya 24 – 26 jam, dan hanya 1 (satu) bulan sekali.
- Di pulau Tambelan, listrik hanya hidup pada pukul 18.00 – 06.00 pada hari Senin – Sabtu. Kecuali hari Minggu, listrik 24 jam lamanya.
- Syukurnya…. Sudah ada sinyal di sana! Ada 2 (dua) BTS operator seluler di Tambelan, yaitu Telkomsel dan Indosat.

Waw! Keren! Hehehehe..

Di akhir pertemuan saya di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan itu, saya diinformasikan bahwa saya akan berangkat dengan kapal perintis pada tanggal 10 September 2008, sebab kapalnya baru ada tanggal segitu. Dan waktu itu tgl 4 September 2008. Berarti, saya masih punya waktu 6 (enam) hari lagi di kota Tanjung Pinang. Hehehe..

Possibly Related Posts:


 

PTT (Pegawai Tidak Tetap) -part 1-

06 Sep

Tunggu dulu, apa itu PTT? Hehehe pasti ga semua tau apa itu PTT. Bukan, bukan Push To Talk hehehe.. PTT itu adalah Pegawai Tidak Tetap.

Jadi begini, semua dokter / dokter gigi yang baru lulus itu biasanya pergi tugas ke daerah terpencil atau sangat terpencil di pelosok Indonesia. Dulu, PTT ini adalah hal wajib dilakukan oleh para dokter / dokter gigi agar bisa diberikan Surat Izin Praktek (SIP). Juga wajib dilakukan sebelum apply PNS atau mau sekolah lagi, atau ingin melamar menjadi dokter / dokter gigi di suatu instansi atau rumah sakit.

Sekarang?
Sekarang sudah lebih dimudahkan. PTT sudah bukan menjadi hal wajib bagi para dokter / dokter gigi baru lulus. Mereka sudah bisa buka praktek dengan syarat harus lulus tes kompetensi kedokteran / kedokteran gigi yang disahkan oleh Kolegium Kedokteran / Kedokteran Gigi Indonesia. Dan setelah lulus tes itu, sertifikat kelulusan tes tersebut merupakan salah satu syarat untuk mengurus Surat Tanda Registrasi Dokter / Dokter Gigi yang disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. Setelah mempunyai Surat Tanda Registrasi (STR) Dokter / Dokter Gigi, maka tiap dokter / dokter gigi sudah bisa mengurus Surat Izin Praktek (SIP) di bawah rekomendasi IDI atau PDGI setempat.
PTT tetap menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menabung untuk membangun tempat praktek, atau bagi mereka yang ingin melanjutkan sekolah, maupun bagi mereka yang ingin menjadi PNS.

Oke oke, jadi kenapa saya ngalor ngidul tentang PTT ini? :D :D
Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


 

Lost in Bandung

10 May

Setelah beberapa hari di Bandung, saya punya satu kesimpulan mutlak. Jalur angkot di Bandung ribet sekali!!! *pingsan* eh betulan lho! Makanya ndak heran kalau banyak yang pake kendaraan pribadi di Bandung, entah pake mobil atau pake motor. Kayaknya ribet karena banyak jalan-jalan di Bandung yang searah, makanya angkotnya harus muter ke mana-mana dulu. Hhh.. kayaknya masih enak di Makassar angkotnya. Ketahuan jelas arahnya ke mana saja, dan kalau salah angkot tinggal ngambil jurusan sebaliknya. Kalau di Bandung dan salah angkot? Kamu harus pasrah sama keadaan dan bertanya kepada sesama penumpang, nekat turun dan coba ambil angkot lain, atau menelpon orang yang dikenal di Bandung.

IMG00659.jpg

Foto di atas diambil di atas angkot Caheum – Ciroyom, on the way dari RS Hasan Sadikin ke Dipati Ukur. Ya, angkot jurusan Caheum – Ciroyom lho *summon wesli* hehehe. Eh, perhatiin nggak, ternyata di kaca belakang itu ada mukanya Dede Yusuf haha :D saya nggak nyangka. Baru ngeh ketika upload foto ini ke sini.

Eniwei, masih ngomongin tentang transportasi umum di Bandung, hati-hati kalau naik taksi. Banyak yang suka argo tembak, alias ndak pake argo. Tarifnya di-”tembak” sekenanya saja, dan biasa malah lebih mahal daripada pake argo. Taksi-taksinya juga banyak yang ndak jelas. Cuma dua yang bisa direkomendasi dan menggunakan argo. Taksi blue bird dan taksi G R. Taksi Putra juga ada di sini sih tapi jarang ditemukan.

Kembali ke masalah angkot.
Ceritanya saya dari Dipati Ukur, mau ke Cisitu Indah no 8 (ya ya kantornya Qwords.com haha). Janjian ama Rendy untuk lihat kostan di daerah situ. Tapi pas waktu janjian, ternyata si Rendy harus ngider “jualan” dulu. Jaaah.. kepaksa saya harus improvisasi deh naik angkotnya hahahah.. Sama Rendy direkomendasiin untuk menelpon Yuli (kayaknya staff Qwords) untuk minta dipandu jalur angkot dari Dipati Ukur ke Cisitu.

Dan terjadilah percakapan sebagai berikut:
Dialing 02270417xxx..
“Halo?”
“Err, bisa bicara dengan mbak Yuli?”
“Iya saya sendiri.” Diujung sana terdengar heran.
“Saya Rara, temannya Rendy. Saya dikasih tau Rendy untuk nelpon mbak Yuli. Minta dipandu ke Qwords. Posisi saya sekarang di Dipati Ukur.”
“Oh, naik angkot Caheum Ciroyom, mbak.”
“Lalu?”
“Naik angkot itu sampai Sumur Bandung.”
“Hah? Semur?” gubrak, itu kan makanan hihihi.
“Sumur Bandung, mbak, bukan semur.
“Ah oke, kasih tau supirnya bilang Sumur Bandung dia tau kan?”
“Iya. Sampai Sumur Bandung, mbak turun ganti angkot warna ungu jurusan Cisitu.”
“Trus?”
“Trus nanti dibawa ke sini. Depan rumah warna orange.”
“Qwords itu sebelah kiri atau kanan jalan?”
“Ha?”
“Ngg.. never mind. Oke nanti kalau saya bingung di tengah jalan, saya nelpon lagi ke mbak Yuli yaa.. Makasih, mbak”
Call ended.

Dan saya pun naik angkot Caheum – Ciroyom sambil nanya “Sumur Bandung?” *dalam hati pengen bilang semur bandeng hahaha*. Setelah McD Dago, si supir nanya, “Sumur Bandungnya di mana, neng?”. Saya jawab aja tolong turunin di tempat ngambil angkot yang ke Cisitu. Ya udah akhirnya saya diturunin depan Kafe Halaman.
Tidak lama menunggu, ada angkot ungu dengan tulisan “Cisitu”, saya naik aja. Trus sms si Rendy, ngabarin kalau saya sudah naik angkot warna ungu arah Cisitu. Rendy ngingetin lagi, turunnya nanti depan pondok Orange. Ok deh!

Setelah 5 menit saya jadi ragu apakah saya mengambil angkot yang benar. Masalahnya kok saya berada di jalan Cihampelas? Nah lho! Saya perhatikan lagi, lho kok ada tulisan Cihampelas Walk alias CiWalk?? Waduh jangan2 saya salah! Akhirnya kirim sms lagi ke Rendy.
“Eh angkotnya emang lewat cihampelas ya? *bingung* tadi gw naiknya dari sumur bandung depan kafe halaman itu.”
“Salah naek, harusnya di depan cibiuk. Yg ke arah cisitu.”
“Wadow! Huaa pantes mbingungin. Trus gw harus ke mana neh??”
“Minta ma supirnya ntar di wastukencana, di switch ke yang kearah cisitu.”
“Wastu kencana, stdi?”
“Tanya ma supir.”

Ya ya ya. Wastu kencana, seems familiar. Untungnya beberapa waktu lalu, sempat berkelana dekat Novotel, jadi jalan itu agak familiar untukku. Saya turun saja di situ. Lalu kebingungan hahaha. Akhirnya nelpon lagi mbak Yuli di Qwords *ga enak ngrecokin Rendy via sms lagi* hehehehe.. Di telepon mbak Yuli menjelaskan lagi kalau saya naik lagi angkot ungu tapi di jalur sebelah kanan (angkot ungu yg dari cihampelas tadi masuknya ke jalur kiri), dan harus ingat, tanya pada supir “Cisitu?”. Heheheh..

Oke deh!
Singkat kata, akhirnya saya nyampe juga dengan selamat. Phew!

Ini sedikit trayek yang masih mampir dalam ingatan.

Dari Dipati Ukur ke RS Hasan Sadikin:
Naik Caheum – Ciroyom, yang ke arah simpang Dago. Langsung turun depan RS Hasan Sadikin.
Tips: kalau baru pertama kali, minta sama supir tolong turunin di situ hehe, pasti diingetin pas nyampe.

Dari Dipati Ukur ke CiWalk:
Naik Caheum – Ciroyom, turun depan CiWalk

Dari Dipati Ukur ke Dago:
Naik Caheum – Ciroyom ke arah simpang Dago, turun di Circle K, trus naik angkot Dago sesuai dengan keinginanmu, mau ke Dago Atas atau ke Dago Bawah.

Dari Dipati Ukur ke BIP:
Naik Caheum Ciroyom ke arah simpang Dago, turun di Circle K. Depan Circle K (jangan nyeberang), ambil angkot Dago ke arah kiri.

Dari Wastu Kencana ke BEC:
Naik Kalapa – Ledeng depan STDI.

Dari BEC ke BIP:
Nggak usah naik angkot :D tinggal jalan ke Gramedia depan BEC, jalan terus ke depan. Pas nemu jalan raya lagi, depannya itu sudah BIP. Hehehehe..

Yah segitu aja dulu deh :D :D hehehe..
Moga-moga saya bisa ingat jalur angkot lebih banyak lagi daripada ini :D

Possibly Related Posts:


 

Batagor

22 Feb

batagor kingsley

Gambar di atas adalah gambar dua porsi Batagor dan semangkuk es *saya lupa namanya*…
Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


 
  • Recent Comments

  • Categories

  • Tags

  • Archives

  • Events







    angingmammiri blogfest WordCampID – January 30, 2010
  • Campaign Banner

    Solidaritas Kebersamaan
    Against Stigmatization to HIV Infected People
    Bebas Rokok, Bisa!
    JANGAN ASAL COPY PASTE..
    Golongan Darah dot net
  • Counter

  •