Mencoba Dolce Gusto di Klinik

Sudah lama saya melihat mesin kopi Nescafe Dolce Gusto yang dijual di beberapa tempat, di Jakarta. Ketika berkunjung ke kantor teman saya untuk ikutan Webmaker Mentor Training, ternyata di kantornya ada mesin kopi yang desainnya unik ini. Langsung saja saya mencoba menggunakannya dan saat itu juga makin naksir mesin yang fantastis ini.

Dolce Gusto di HHDC Clinic
Kurang lebih beberapa minggu yang lalu, mesin Dolce Gusto ini nangkring di klinik tempat saya bekerja, yaitu HHDC Clinic. Ternyata bu bos sedang berbaik hati menyediakan mesin kopi bagi para staf dan dokter gigi di HHDC Clinic yang sebagian besar pecandu kopi. Bahkan, pasien yang sedang menunggu giliran diperiksa pun, dapat menikmati mesin yang oke banget ini.

Nescafe Dolce Gusto
Staf HHDC Clinic lagi nyobain Nescafe Dolce Gusto

Melihat hal ini, saya senang luar biasa. Ah, produk Dolce Gusto ini merupakan salah satu dari wishlist selama ini. Dan ternyata, tidak perlu repot seperti mesin kopi lainnya, jenis kopi yang digunakan dikemas dalam kapsul, yang siap digunakan langsung.

Kapsul Dolce Gusto ada bermacam-macam. Cappucino, Mocha, Espresso, Café au Lait, Grande Intenso, dan lain-lain. Selain produk kopi, ada juga yang non-coffee yaitu Milo, Green Tea Latte dan Nestea Peach. Salah satu rekan sekerja saya sampai bercanda, jangan-jangan beberapa bulan lagi kita bisa bikin café di samping klinik, yang menyediakan berbagai macam minuman. Hahaha ^o^

Satu box kapsul Dolce Gusto biasanya berisi 16 kapsul. Dan tergantung dari jenis minumannya, contohnya untuk segelas Café au Lait hanya butuh 1 kapsul, dan untuk segelas Cappucino atau Green Tea Latte butuh 2 kapsul yang terdiri dari kopi/tehnya dan latte. Biasanya saya minum kopi di sore hari, maka saya hanya butuh 1 kapsul sehari. Untuk minuman Café au Lait bisa menghabiskan 2 box dalam sebulan. Dan untuk minuman yang membutuhkan 2 kapsul seperti Cappucino, bisa menghabiskan 4 box dalam sebulan. Balik lagi sih, tergantung kebiasaan minum kita ^.^

Pop Up Cafe Dolce Gusto @ Lotte Avenue
Pop Up Cafe Dolce Gusto @ Lotte Avenue

Sayangnya, tidak mudah menemukan berbagai macam kapsul Dolce Gusto. Saya mencoba mencari kapsul yang non-coffee, kebanyakan yang terlihat adalah Milo. Green Tea Latte, apalagi Nestea Peach, cukup sulit ditemukan. Lalu tempat pembelian pun masih terbatas.

Oh iya, mesin Dolce Gusto yang di klinik saya adalah yang Genio. Ada lagi yang bentuknya seperti lingkaran, yaitu Circolo. Sebenarnya fungsinya sih sama saja, yang membedakan hanya kapasitas airnya saja.

Well, begitu sekilas tentang si mesin kopi yang keren banget ini. Kalau kalian ke klinik, boleh banget kok ikut menikmati kopi atau susu ala Dolce Gusto ^.^

photo_2015-06-02_09-07-56

Kisah Sedih di Puskesmas Tambelan

Ada sesuatu yg bikin miris pagi ini :(

Sebelumnya saya nginfoin kalo di Puskesmas Tambelan itu ada UGD 24 jam-nya dan ruang rawat inap. Lumayan lah walau tidak selengkap rumah sakit.

Subuh tadi jam 2, masuk seorang ibu yg ingin melahirkan. Diterima di UGD. Dan didampingi oleh bidan dan beberapa perawat untuk membantu persalinan.

Sampai pagi tadi, anaknya belum lahir juga. Keluarga besarnya banyak yang datang.

Ternyata anaknya ga bisa keluar. Awalnya baru keluar kepalanya. Kemudian setengah badannya, lalu gak bisa lagi keluar. Sampai jam 8 pagi tadi keadaannya masih demikian. Bayinya besar, susah melewati jalur persalinan normal.

Dalam kasus seperti ini, harusnya dicaesar saja. Tapi apa daya, peralatan dan tenaga puskesmas tidak memadai :( jadilah ibu itu “dipaksa” melahirkan secara normal.

Jam 9 lewat 10 menit tadi, akhirnya bayi tersebut berhasil dilahirkan. Tetapi sudah terlambat, sang bayi sudah tak dapat diselamatkan lagi. Beratnya 5 kg.

Menurut staf puskesmas, hal ini sering terjadi, dan mereka harus merelakan kepergian anak2 yang tidak bisa ditolong :(

Di pulau seterpencil ini, di mana kapal hanya 2x sebulan dengan jarak tempuh 24 jam, tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan sang bayi ;(
Mau dilarikan ke rumah sakit di Tanjung Pinang pun tidak bisa karena kendala transportasi.

Bagi mereka yang punya duit lebih, mungkin sebelum kelahiran akan bersiap2 melahirkan di Tanjung Pinang sana. Tapi bagi mereka yang duitnya pas-pasan, puskesmas lah yang menjadi harapan satu-satunya.

*sedih*

PTT (Pegawai Tidak Tetap) -part 2-

Sebelumnya saya minta maaf, blog jadi jarang terupdate hehehe.. Yah maklum, setelah menginjak lokasi PTT, ternyata sinyal yang ada hanya GSM saja. GPRS ada sih tapi kata orang Indosat masih numpang di jalur voice, jadi ya gak secepat di kota-kota besar gitu lho :P Blackberry-ku pun ngos-ngosan mencari sinyal sampai baterainya cepat panas. Yah untung lah saya memakai blackberry, jadi masih bisa terima email dan sedikit browsing kalau perlu, minimal Y!M lah hehehe.

Ok, saya lanjut cerita saya. Terakhir postingan saya tentang PTT ini, waktu hari pertama saya baru tiba di Tanjung Pinang – Bintan. Nah ini keesokan harinya, saya dan adik kelas saya, Ermyta, pergi ke Dinas Kesehatan Propinsi Kepulauan Riau untuk melapor. Saya melapor untuk memberitahukan bahwa saya sudah tiba di propinsi tersebut untuk melaksanakan tugas PTT. Ternyata rombongan para dokter / dokter gigi PTT yang sama-sama bertugas di Kepulauan Riau hari itu sudah berangkat ke lokasi masing-masing. Dapat sedikit teguran hehehe :P

Setelah sedikit mendengar “ceramah” pegawai yang saya temui di Dinas Kesehatan Propinsi Kepulauan Riau tersebut, saya pun dikasih surat pengantar untuk melapor ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan. Untungnya sih, kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan ini berada kota Tanjungpinang juga. Tidak seperti kantor Dinas Kesehatan kabupaten-kabupaten lainnya dalam propinsi Kepulauan Riau ini, harus menempuh sekian jam naik kapal untuk ke kantor dinas-nya. Misalnya kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun yang berada di kota Tanjung Balai, harus naik kapal ferry ke Tanjung Balai selama 4 jam.

Oh iya, sebelum meninggalkan kantor Dinas Kesehatan Propinsi Kepulauan Riau, saya disuruh menandatangani NOTA KOSONG! Saya sempat terperangah, mengapa saya harus menandatangai nota kosong ini? Tapi saya malas cari masalah dan berdebat, ya sudah saya tandatangani saja. Bentuk nota kosong tersebut saya kenali, soalnya saya harus menandatangani nota yang serupa ketika saya menerima uang jalan + uang pengganti tiket pesawat dari Makassar ke Tanjung Pinang. Ketika saya cerita ke beberapa teman saya yang juga sedang PTT di Kepulauan Riau (tapi mereka mulai dari periode bulan Juli 2008, saya bulan September 2008), seharusnya saya menerima sejumlah uang lagi untuk transportasi ke kabupaten lokasi PTT saya. Wah, ada yang ga beres di sini *geleng2 kepala*

Kemudian saya pun ke kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, masih diantar oleh Ermyta. Di sana saya bertemu langsung dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, Bpk. Puji, kemudian diarahkan untuk berurusan dengan bagian Biro Kepegawaian Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan. Saya kemudian menerima surat tugas yang menyatakan bahwa saya ditugaskan di Kecamatan Tambelan. Sebelumnya saya sudah mendengar sedikit isu-isu bahwa Tambelan itu adalah sebuah pulau yang sangat jauh dan sangat terpencil di Kabupaten Bintan, serta merupakan daerah kecamatan yang paling jauh dari Kabupaten Bintan. Alamak!

Masih di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, di sana saya diminta untuk menyetor fotokopi rekening giro untuk kepentingan transfer gaji dan insentif yang akan saya terima mulai bulan depannya. Juga fotokopi ijazah Dokter Gigi, surat Sumpah Dokter Gigi, dan Transkrip Nilai, serta foto 3 x 4 sebanyak 2 lembar. Ketika mengurus, saya bertemu dengan salah satu pegawai Dinas yang bernama Rama Agustian. Ternyata dia merupakan salah satu dari staf Puskesmas Tambelan yang sedang tugas belajar di Tanjung Pinang. Dia langsung ngajak ngobrol banyak ketika mengetahui bahwa saya ditugaskan di Puskesmas Tambelan.

Dia lalu bercerita banyak mengenai Tambelan, dan memberikan informasi yang sangat lengkap (menurut saya) sebagai gambaran buat saya seperti apa di Tambelan itu. Terus terang mendengar nama Pulau Tambelan pun saya baru kali ini.

Beberapa informasi tentang Pulau Tambelan yang saya ketahui dari Rama, yaitu:
– Pulau Tambelan merupakan kecamatan yang paling jauh dan terpencil di Kabupaten Bintan.
– Jumlah penduduk di Kecamatan Tambelan hanya sekitar 4.000 jiwa.
– Penduduknya hidup tidak terpisah-pisah dalam kecamatan tersebut. Maksudnya, jarak antar rumah itu berdekatan satu sama lain.
– Letak pulau Tambelan sebenarnya lebih dekat dengan Kalimantan Barat. *huah*
– Transportasi ke pulau Tambelan hanya melalui jalur laut, alias naik kapal. Kapal yang ada pun bukan kapal seperti kapal Pelni, melainkan kapal perintis. Kapal perintis itu sejatinya adalah kapal barang yang dipakai untuk mengangkut orang hehehe.. Jadi bayangkan saja lah pasti tidurnya di dek tuh hehehehe.
– Jarak tempuh dari kota Tanjung Pinang ke pulau Tambelan dengan menggunakan kapal perintis, adalah 22 – 24 jam lamanya.
– Frekuensi kapal perintis ke / dari Tambelan, sekali dalam 12 hari. Maka dalam 1 (satu) bulan hanya 2 (dua) kali.
– Ada kapal penumpang yang ke / dari Tambelan, namanya KM. Gunung Bintan. Tapi lamanya 24 – 26 jam, dan hanya 1 (satu) bulan sekali.
– Di pulau Tambelan, listrik hanya hidup pada pukul 18.00 – 06.00 pada hari Senin – Sabtu. Kecuali hari Minggu, listrik 24 jam lamanya.
– Syukurnya…. Sudah ada sinyal di sana! Ada 2 (dua) BTS operator seluler di Tambelan, yaitu Telkomsel dan Indosat.

Waw! Keren! Hehehehe..

Di akhir pertemuan saya di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan itu, saya diinformasikan bahwa saya akan berangkat dengan kapal perintis pada tanggal 10 September 2008, sebab kapalnya baru ada tanggal segitu. Dan waktu itu tgl 4 September 2008. Berarti, saya masih punya waktu 6 (enam) hari lagi di kota Tanjung Pinang. Hehehe..

PTT (Pegawai Tidak Tetap) -part 1-

Tunggu dulu, apa itu PTT? Hehehe pasti ga semua tau apa itu PTT. Bukan, bukan Push To Talk hehehe.. PTT itu adalah Pegawai Tidak Tetap.

Jadi begini, semua dokter / dokter gigi yang baru lulus itu biasanya pergi tugas ke daerah terpencil atau sangat terpencil di pelosok Indonesia. Dulu, PTT ini adalah hal wajib dilakukan oleh para dokter / dokter gigi agar bisa diberikan Surat Izin Praktek (SIP). Juga wajib dilakukan sebelum apply PNS atau mau sekolah lagi, atau ingin melamar menjadi dokter / dokter gigi di suatu instansi atau rumah sakit.

Sekarang?
Sekarang sudah lebih dimudahkan. PTT sudah bukan menjadi hal wajib bagi para dokter / dokter gigi baru lulus. Mereka sudah bisa buka praktek dengan syarat harus lulus tes kompetensi kedokteran / kedokteran gigi yang disahkan oleh Kolegium Kedokteran / Kedokteran Gigi Indonesia. Dan setelah lulus tes itu, sertifikat kelulusan tes tersebut merupakan salah satu syarat untuk mengurus Surat Tanda Registrasi Dokter / Dokter Gigi yang disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. Setelah mempunyai Surat Tanda Registrasi (STR) Dokter / Dokter Gigi, maka tiap dokter / dokter gigi sudah bisa mengurus Surat Izin Praktek (SIP) di bawah rekomendasi IDI atau PDGI setempat.
PTT tetap menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menabung untuk membangun tempat praktek, atau bagi mereka yang ingin melanjutkan sekolah, maupun bagi mereka yang ingin menjadi PNS.

Oke oke, jadi kenapa saya ngalor ngidul tentang PTT ini? :D :D
Continue reading “PTT (Pegawai Tidak Tetap) -part 1-“

Done!

Telah dilaksanakan:

Ujian seleksi masuk untuk calon peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Dengan jadwal ujian:
Hari Jumat / tanggal 6 Juni 2008 07.00 – selesai Psikotes di RSHS. Done! Kemarin.
Hari Sabtu / tanggal 7 Juni 2008 08.00 – selesai Test tertulis dan Wawancara di R. Auditorium dan R. Sidang. Done! Tadi siang.

Hasilnya? Continue reading “Done!”

Introducing.. the DENTIST!

Now my name is drg. Irayani Queencyputri, SKG.

me_graduate

*phew*
Glad to have that title finally, after so many years in Dentistry Faculty of Hasanuddin University.
Thanks to God Almighty, for all the blessings and everything!
Thanks to my Mom for her pray that always continue every night for me..
Thanks to him who always be my shoulder to cry on and never tired to support me every time I’m down.
Thanks to my friends, all friends in Dentistry Faculty, Blogger Makassar, Bloggers, Id-Gmail.. for all the support! Without you all I can’t survive I guess :D

graduate_name

The rest of the pictures you can click here.
Photography by Ina

Finally I finish my long-term-study..
Anyone got toothache? :P

I Am Relieved

Today I am so glad and I am so relieved.

Why?

Because the biggest question mark in past 3-4 years starts to fade.
Now I could see the future up there.
Well, not that clear yet.. but it is there, I believe..
It’s there!

God help and guide me to walk in the aisle of troubles..
Guide me to do the right one and choose the right thing..

Only a few little steps further….
….to become a DENTIST!

Ujian! Ujian! Hiatus Dulu :(

ujian! ujian!
Kayaknya saya terpaksa “h-i-a-t-u-s” lagi nih :( Setelah memaksakan, ternyata susah membagi waktu offline dan online sekarang-sekarang ini :( Ujian saya sebenarnya sudah dimulai dari tanggal 4 Mei 2007 yang lalu, tapi saya tetap memaksakan untuk bisa online barang sebentar saja. Tapi melihat komen-komen yang diterlantarkan, email-email yang bertumpuk, jadi ga enak untuk tidak membalas, dan hasilnya.. makin memakan waktu yang sempit :(

Jadi kuputuskan untuk h-i-a-t-u-s saja.

Untuk temanG-temanG Blogger Makassar saya tetap ada ji kalian ada apa-apa sms saya saja. tapi untuk kopdar-kopdar saya absen dulu ya, nanti dilihat kalau bisa ikutan saya ikutan, kalau ndak ya salamku ma mi nah.. Ditunggu kaporanG kopdarnya :D

Ujian akhir bagian untuk mahasiswa klinik Kedokteran Gigi cukup berbeda dengan ujian mahasiswa seperti ujian final-final semester itu. Beda dan tidak sama. Kalau mahasiswa kuliahan kan kalau ujian final ya sesuai jadwal bla bla gitu, trus abis itu tinggal tunggu nilai. Kalau ujiannya mahasiswa klinik Kedokteran Gigi itu betul-betul butuh waktu dan tenaga ekstra :( Sebab ujiannya itu di tiap-tiap bagian (di FKG UNHAS ada 12 bagian, termasuk bagian yang harus dijalani gabung sama anak mahasiswa klinik FK UNHAS di RS Wahidin).

Kalau ujian itu:
1. Requirement kasus dan baca seminar harus selesai, kemudian evaluasi.
2. Urus surat penugasan penguji (harus di rental depan klinik ngurusnya, karena sudah ada formatnya di sana) saat itu juga untuk mendapatkan tandatangan dan stempel dari Ketua Bagian.
3. Surat penugasan penguji tadi itu harus dibawa ke dokter penguji yang bersangkutan. Bila hari itu tidak ada, berarti sebentar malam harus keliling ke tempat praktek si dokter penguji untuk menyerahkan surat penguji tadi. Atau kalau perlu ke rumahnya, atau telepon untuk janjian.
4. Bawa pasien ujian (untuk beberapa bagian, misalnya bagian Bedah Mulut, bagian Periodontologi, bagian Konservasi Gigi). Pasien ujian ini harus beberapa orang, jadi kalau satu ditolak, harus siap-siap cadangannya supaya dokter tidak marah karena kita bergerak lambat, dan supaya tidak buang waktu.
5. Siap dipanggil ujian oleh dokter penguji (yang ditentukan setelah selesai evaluasi), harus siap ujian baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
6. Siap dimarah-marahi dokter penguji kalau salah-salah terus jawabnya. Dan siap untuk bolak-balik untuk ujian ulang dan lanjutan bila masih ada jawaban yang kurang memuaskan.

Lama ujian, tergantung bagian yang dimasuki. 1-2 hari sampai bulanan pun ada. Sebabnya? Terlalu banyak faktor yang mendukung, jadi.. yah gitu lah.. Dijalani saja *sigh*

Tadi point 4 di atas ada kata-kata pasien ujian. Nah pasien ujian itu adalah pasien yang dengan kasus yang serba complicated di dalam mulutnya. Seberapa rumit? Tergantung dari bagian yang dihadapi. Semakin banyak kasus di dalam mulutnya, semakin besar kemungkinan untuk diterima. Semakin sedikit, kemungkinan ditolak itu ada, dan harus cari pasien ujian yang baru lagi.

Bagaimana mencari pasien ujian? Biasanya carinya itu sampai di lorong-lorong, perumahan kumuh, dan di mana saja yang memungkinkan. Pencarian bisa berjam-jam, bahkan berhari-hari. Jadi kalau waktu sudah terbuang untuk mencari pasien ujian, silakan mikir sendiri aja, waktu untuk belajar textbook yang tebalnya serba satu jengkal itu gimana mau dimasukin di otak?

Yah.. gitu deh..

Nah, ini sepertinya akan menjadi posting yang lama terpajang di daftar postingan paling atas di blog saya ini.
Doakan saya ya.. moga-moga bisa berhasil meraih gelar “DRG” itu secepatnya. Dan kembali mengisi blog ini.

Ujian di Bagian Bedah Mulut

Image hosted by Photobucket.comThank God!! Ujian gw finally over hari Sabtu yang lalu!! Jadi gw sama sekali udah selesai melewati bagian Bedah Mulut. Senangnya ada bagian yang udah berhasil dilewati lagi setelah bagian Pedodonsia hehehe.
Senangnya tuh ujianku ini nggak banyak masalah. Walau ngga tau hasilnya bakal A atau B cuma untungnya nggak menemui penghalang. Kenapa? Soalnya pas dapat penguji yang baik, yang nggak suka ngulur-ngulur waktu, dan yang selalui straight to the point in questions.
Gw pengen nge-review perjalanan gw di bagian Bedah Mulut.

Desember 2003 – Maret 2004
Tampang culun baru masuk bagian Bedah Mulut…
Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com
Sok serius banget seh (kiri). Menyelesaikan kasus salah satunya yaitu odontectomy a.k.a operasi mengeluarkan gigi geraham bungsu yang paling belakang itu, yang sering jadi masalah hehehe.. (kanan)
Kasus gw selesaikan dengan baik, baca referat pun sukses dengan judul “Bedah Mulut pada Pasien Usia Lanjut”. Tapi apa mau dikata, karena minggunya udah ga cukup, jadi gw dengan sukses keluar bagian tanpa ujian dulu.
Akhirnya gw keliling-keliling dulu ke bagian lainnya dan setelah satu setengah tahun gw kembali ke bagian Bedah Mulut.

30 Agustus – 10 September 2005
Image hosted by Photobucket.comGw ujian! Gw ujian! Gile ujian aja segitu senengnya :p~
Penguji gw:
drg. Fonny Dahong (Ketua Penguji)
drg. Hasmawaty H., M.Kes (Anggota Penguji)
Selama ujian itu gw harus bener-bener konsentrasi *makanya blog ini sempat terlantarkan setelah gw balik dari Aceh n Kaltim* untuk menghafal segala macam teknik-teknik dan prosedur operasi, etc etc. Trus penguji-penguji gw itu (terutama yang pertama) adalah seorang dokter senior yang sangat mendalami banget textbook terkenal untuk bidang ilmu bedah mulut yang berjudul “Oral and Maxillofacial Surgery” karangan Archer. Image hosted by Photobucket.comBuku dengan 2 volume dengan ketebalan yang ga kira-kira nyaingin pump shoes-nya Emmy yang tinggi itu, bener-bener adalah buku yang penuh dengan ilmu. Sayang buku ini udah lama banget edisinya dan gw pun nggak yakin kalau buku ini masih ada di pasaran :( Gw nyari-nyari dan keliling-keliling di perpustakaan Faculty of Dentistry National University of Singapore-pun kagak ada. Yang ada teman gw si Rachel yang terbingung-bingung itu buku macam apa hehehe. Jadi kalau ada yang kebetulan lihat buku kek gini di tukang loak, hubungi gw ya.. mauuu banget!!
Foto teksbook yang warna merah itu adalah bukunya tapi fotokopian. Iya, saking langkanya tuh buku yang ada di perpustakaan Bedah Mulut-pun hanya fotokopiannya. Tapi sumpah berguna banget!!
Oh iya.., selama ujian, yang anak-anak ujian itu ditempatkan di ruangan yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Di dalam ruang perpustakaan bagian Bedah Mulut yang terkoneksi langsung dengan ruang dosen Bedah Mulut. Jadi kalau dokter pengujinya datang tinggal dipanggil aja. Kita namai ruangan itu sebagai “ruang penantian ujian” heuhehehe…
Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com
Kiri: Berbagai buku-buku Bedah Mulut yang berantakan di meja ruang penantian ujian. Kanan: Daripada stres baca buku udah kebanyakan (duile!) mending ber-narsis-ria hehehe.. Minjem hapenya Ika Adriana a.k.a Echi 00 untuk foto-foto dan bluetooth ke hape gw :D~