Bila Presiden Merenung

“Tanah airku Indonesia / Negeri elok yang amat kucinta / Tanah tumpah darahku yang mulia / Yang kupuja s’panjang masa / Tanah airku aman dan makmur / Pulau kelapa nan amat subur / Pulau Melati pujaan bangsa / sejak dulu kala…”

Itulah adalah sepenggal bait dari lagu nasional “Rayuan Pulau Kelapa” yang sering kita nyanyikan dengan bangga saat kita masih mengayomi pelajaran-pelajaran dasar di bangku SD pada waktu upacara tiap hari Senin maupun pada upacara tujuh belasan.

Tanah airku Indonesia, negeri elok amat kucinta… Hmm.., negeri elok? Ya, tidak salah memang, tapi kata ‘elok’ itu untuk masa-masa sekarang yang dialami bangsa kita ini rasanya belum pantas untuk disandang kembali. Memang, elok secara fisik. Tetapi bagaimana dengan moral? Apakah zaman-zaman sekarang ini moral Bangsa Indonesia dapat dikatakan elok juga?

Mari memakai kacamata dengan baik dan benar serta tepat pada tempatnya. Pasangkan baik-baik di atas batang hidung dan kaitkan dengan benar di belakang daun telinga . Pandanglah di sekeliling. Apa yang sedang terjadi?

Indonesiaku tersayang, hatiku sangat tergores melihat dirimu yang sekarang ini. Sungguh engkau mengalami masa kritis yang amat sulit.

Indonesia memerlukan penyokong yang kuat untuk pulih kembali. Bagaikan anak yang menyumbangkan darahnya dengan rela kepada ibunya yang sedang sakit, tunjukkanlah rasa kasih kita terhadap bangsa ini dengan kembali dan berjuang bersama untuk kesembuhannya, untuk pemulihannya kembali. Dan pulihkan pula kepercayaan dunia terhadap kita.

Indonesiaku, apa kabar? Sungguh aku merindukan masa-masa lalu yang begitu indah. Saat semuanya hidup rukun dan damai, tentram dan bersahabat. Saat aneka ragam kebudayaan kita dikagumi oleh banyak orang, saat kita bangga menyebut diri kita sebagai bangsa Indonesia. Kapankah semua itu dapat terwujud kembali? Kapan?

Indonesia, sekarang kemerdekaanmu telah 61 tahun lamanya. Apa kabarmu kini?

Related posts :

2 thoughts on “Bila Presiden Merenung”

Leave a Reply